Seni Musik, Tari, Teater, Sastra, Karawitan (Tradisional), Rupa (Desain), Mancanegara

Translate

Tampilkan postingan dengan label Seni Musik Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Musik Tradisi. Tampilkan semua postingan

Seni Musik: Sejarah Gamelan Jawa dan Perkembangannya

gamelan_gong_gede

Bagi masyarakat Jawa khususnya, gamelan bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan kesehariannya. Dengan kata lain, masyarakat tahu benar mana yang disebut gamelan atau seperangkat gamelan. Mereka telah mengenal istilah 'gamelan', 'karawitan', atau 'gangsa'. Namun barangkali rnasih banyak yang belum mengetahui bagaimana sejarah perkembangan gamelan itu sendiri, sejak kapan gamelan mulai ada di Jawa?.

Seorang sarjana berkebangsaan Belanda bernama Dr. J.L.A. Brandes secara teoritis mengatakan bahwa jauh sebelum datangnya pengaruh budaya India, bangsa Jawa telah rnemiliki ketrampilan budaya atau pengetahuan yang mencakup 10 butir (Brandes, 1889):

(1) wayang,
(2) gamelan,
(3)ilmu irama sanjak,
(4) batik,
(5) pengerjaan logam,
(6) sistem mata uang sendiri,
(7) ilmu teknologi pelayaran,
(8) astronomi,
(9) pertanian sawah,
(10) birokrasi pemerintahan yang teratur

Sepuluh butir ketrampilan budaya tersebut bukan dari pemberian bangsa Hindu dari India. Kalau teori itu benar berarti keberadaan gamelan dan wayang sudah ada sejak jaman prasejarah. Namun tahun yang tepat sulit diketahui karena pada masa prasejarah masyarakat belum mengenal sistem tulisan. Tidak ada bukti-bukti tertulis yang dapat dipakai untuk melacak dan merunut gamelan pada masa prasejarah.

Gamelan adalah produk budaya untuk memenuhi kebutuhan manusia akan kesenian. Kesenian merupakan salah satu unsur budaya yang bersifat universal. Ini berarti bahwa setiap bangsa dipastikan memiliki kesenian, namun wujudnya berbeda antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Apabila antar bangsa terjadi kontak budaya maka keseniannya pun juga ikut berkontak sehingga dapat terjadi satu bangsa akan menyerap atau mengarn bila unsur seni dari bangsa lain disesuaikan dengan kondisi seternpat. Oleh karena itu sejak keberadaan gamelan sampai sekarang telah terjadi perubahan dan perkembangan, khususnya dalam kelengkapan ansambelnya.

Istilah “karawitan” yang digunakan untuk merujuk pada kesenian gamelan banyak dipakai oleh kalangan masyarakat Jawa. Istilah tersebut mengalami perkembangan penggunaan maupun pemaknaannya. Banyak orang memaknai "karawitan" berangkat dari kata dasar “rawit” yang berarti kecil, halus atau rumit. Konon, di lingkungan kraton Surakarta, istilah karawitan pernah juga digunakan sebagai payung dari beberapa cabang kesenian seperti: tatah sungging, ukir, tari, hingga pedhalangan (Supanggah, 2002:5¬6).

Dalarn pengertian yang sempit istilah karawitan dipakai untuk menyebut suatu jenis seni suara atau musik yang mengandung salah satu atau kedua unsur berikut (Supanggah, 2002:12):
(1) menggunakan alat musik gamelan - sebagian atau seluruhnya baik berlaras slendro atau pelog - sebagian atau semuanya.
(2) menggunakan laras (tangga nada slendro) dan / atau pelog baik instrumental gamelan atau non-gamelan maupun vocal atau carnpuran dari keduanya.

Gamelan Jawa sekarang ini bukan hanya dikenal di Indonesia saja, bahkan telah berkembang di luar negeri seperti di Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Canada. Karawitan telah 'mendunia'. Oleh karna itu cukup ironis apabila bangsa Jawa sebagai pewaris langsung malahan tidak mau peduli terhadap seni gamelan atau seni karawitan pada khususnya atau kebudayaan Jawa pada umumnya. Bangsa lain begitu tekunnya mempelajari gamelan Jawa, bahkan di beberapa negara memiliki seperangkat gamelan Jawa. Sudah selayaknya masyarakat Jawa menghargai karya agung nenek moyang sendiri.
Sumber data tentang gamelan

Kebudayaan Jawa setelah masa prasejarah memasuki era baru yaitu suatu masa ketika kebudayaan dari luar -dalam hal ini kebudayaan India- mulai berpengaruh. Kebudayaan Jawa mulai memasuki jaman sejarah yang ditandai dengan adanya sistem tulisan dalam kehidupan masyarakat. Dilihat dari perspektif historis selama kurun waktu antara abad VIll sampai abad XV Masehi kebudayaan Jawa, mendapat pengayaan unsur-unsur kebudayaan India. Tampaknya unsur-unsur budaya India juga dapat dilihat pada kesenian seperti gamelan dan seni tari. Transformasi budaya musik ke Jawa melalui jalur agama Hindu-Budha.

gamelan_band2Data-data tentang keberadaan gamelan ditemukan di dalam sumber verbal yakni sumber - sumber tertulis yang berupa prasasti dan kitab-kitab kesusastraan yang berasal dari masa Hindu-Budha dan sumber piktorial berupa relief yang dipahatkan pada bangunan candi baik pada candi-candi yang berasal dari masa klasik Jawa Tengah (abad ke-7 sampai abad ke-10) dan candi-candi yang berasal dari masa klasik Jawa Timur yang lebih muda (abad ke-11 sampai abad ke¬15) (Haryono, 1985). Dalam sumber-sumber tertulis masa Jawa Timur kelompok ansambel gamelan dikatakan sebagai “tabeh - tabehan” (bahasa Jawa baru 'tabuh-tabuhan' atau 'tetabuhan' yang berarti segala sesuatu yang ditabuh atau dibunyikan dengan dipukul). Zoetmulder menjelaskan kata “gamèl” dengan alat musik perkusi yakni alat musik yang dipukul (1982). Dalam bahasa Jawa ada kata “gèmbèl” yang berarti 'alat pemukul'. Dalam bahasa Bali ada istilah 'gambèlan' yang kemudian mungkin menjadi istilah 'gamelan'. Istilah 'gamelan' telah disebut dalam kaitannya dengan musik. Namur dalam masa Kadiri (sekitar abad ke¬13 Masehi), seorang ahli musik Judith Becker malahan mengatakan bahwa kata 'gamelan' berasal dari nama seorang pendeta Burma dan seorang ahli besi bernama Gumlao. Kalau pendapat Becker ini benar adanya, tentunya istilah 'gamelan' dijumpai juga di Burma atau di beberapa daerah di Asia Tenggara daratan, namun ternyata tidak.
Gambaran instrument gamelan pada relief candi

Pada beberapa bagian dinding candi Borobudur dapat 17 dilihat jenis-jenis instrumen gamelan yaitu: kendang bertali yang dikalungkan di leher, kendang berbentuk seperti periuk, siter dan kecapi, simbal, suling, saron, gambang. Pada candi Lara Jonggrang (Prambanan) dapat dilihat gambar relief kendang silindris, kendang cembung, kendang bentuk periuk, simbal (kècèr), dan suling.

Gambar relief instrumen gamelan di candi-candi masa Jawa Timur dapat dijumpai pada candi Jago (abad ke -13 M) berupa alat musik petik: kecapi berleher panjang dan celempung. Sedangkan pada candi Ngrimbi (abad ke - 13 M) ada relief reyong (dua buah bonang pencon). Sementara itu relief gong besar dijumpai di candi Kedaton (abad ke-14 M), dan kendang silindris di candi Tegawangi (abad ke-14 M). Pada candi induk Panataran (abad ke-14 M) ada relief gong, bendhe, kemanak, kendang sejenis tambur; dan di pandapa teras relief gambang, reyong, serta simbal. Relief bendhe dan terompet ada pada candi Sukuh (abad ke-15 M).

Berdasarkan data-data pada relief dan kitab-kitab kesusastraan diperoleh petunjuk bahwa paling tidak ada pengaruh India terhadap keberadaan beberapa jenis gamelan Jawa. Keberadaan musik di India sangat erat dengan aktivitas keagamaan. Musik merupakan salah satu unsur penting dalam upacara keagamaan (Koentjaraningrat, 1985:42-45). Di dalam beberapa kitab-kitab kesastraan India seperti kitab Natya Sastra seni musik dan seni tari berfungsi untuk aktivitas upacara. keagamaan (Vatsyayan, 1968). Secara keseluruhan kelompok musik di India disebut 'vaditra' yang dikelompokkan menjadi 5 kelas, yakni: tata (instrumen musik gesek), begat (instrumen musik petik), sushira (instrumen musik tiup), dhola (kendang), ghana (instrumen musik pukul). Pengelompokan yang lain adalah:

(1) Avanaddha vadya, bunyi yang dihasilkan oleh getaran selaput kulit karena dipukul.
(2) Ghana vadya, bunyi dihasilkan oleh getaran alat musik itu sendiri.
(3) Sushira vadya, bunyi dihasilkan oleh getaran udara dengan ditiup.
(4) Tata vadya, bunyi dihasilkan oleh getaran dawai yang dipetik atau digesek.
Klasifikasi tersebut dapat disamakan dengan membranofon (Avanaddha vadya), ideofon (Ghana vadya), aerofon (sushira vadya), kordofon (tata vadya). Irama musik di India disebut “laya” dibakukan dengan menggunakan pola 'tala' yang dilakukan dengan kendang. Irama tersebut dikelompokkan menjadi: druta (cepat), madhya (sedang), dan vilambita (lamban).

Sumber:haxims.blogspot.com

READ MORE - Seni Musik: Sejarah Gamelan Jawa dan Perkembangannya

Seni Musik: Talempong Botuang silungkang

Seni Talempong Botuang jo Ratok Silungkang Oso
Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya, lain daerah lain pula kebiasaannya. Setiap daerah punya ciri khas, baik bahasa, seni dan budaya. Barangkali tak salah pepatah mengatakan bahwa “Bahasa menunjukkan bangsa”.

Silungkang, termasuk Kotamadya Sawahlunto mempunyai Rabona Marapulai (Rebana Pengantin), Pidato Adek, kain songket, sapu ijuak, ale-ale dan ulek-ulek, dan lain-lain. Kesenian Silungkang asli yang saat ini tak lagi dapat kita nikmati dan tak mustahil generasi yang saat ini berusia dibawah lima puluh tahun tidak pernah mengenal dan mendengarnya. Kesenian itu adalah “Talempong Botuang dan Ratok Silungkang Tuo” yang lebih dikenal sebagai “Marungguih”.

Talempong Botuang dan Ratok Silungkang Tuo adalah kesenian lama Silungkang yang dahulunya dimainkan oleh kaum ibu di rumah, di sawah atau di ladang untuk sekedar menghilangkan kepenatan setelah bekerja seharian. Biasanya kesenian ini dimainkan di dangau sambil berleha-leha. Syairnya sangat didominasi oleh pantun parosaian (meratap) dan pantun kerinduan pada anak dan suami tercinta nun jauh di rantau orang (diera tersebut perantau Silungkang jarang sekali yang menyertakan istri dan kalau ada - anak lelakinya - sementara si istri ditinggal di kampung dengan segala penderitaannya - lahir batin - karena tak jarang “mungkin karena terpaksa keadaan” sang suami” Taposo bauma lo” (Terpaksa berumah) di rantau urang.

Kato ughang saisuak : “Lautan sakti rantau batuah”

Perlu diketahui di zaman itu merantau di Sawahlunto atau di Solok saja (yang jaraknya tak menjadikan kita musafir, sudah dianggap merantau).

Di era tahun 50 an “Talempong Botuang jo Ratok Silungkang Tuo”, ini pernah disosialisasikan kepada kerabat muda. Tapi sayang … umurnya pun muda. Sejak tahun 1955, kedua keseninan itu seperti lenyap ditelan bumi.

Rupanya, nasib masih berpihak pada Silungkang. Saat ini, siapa saja yang ingin menikmati kesenian yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara ditabuh tersebut sudah dapat menikmatnya kembali. Hal ini dimungkinkan karena Silungkang masih menyisakan seorang seniman yang masih konsisten untuk tetap memelihara dan melestarikannya. Beliau itu adalah Datuak Umar Malin Parmato.

Bersama Dinas Kebudayaan, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto beliau saat ini telah membina sebuah grup kesenian Talempong Botuang jo Ratok Silungkang Tuo, di Sungai Cocang. Dan sudah pula dimasukkan ke dalam pelajaran ekstra kurikuler di SD No. 13 Sungai Cocang.

Kiprahnya cukup membanggakan. Selain penampilan perdananya di Sawahlunto pada acara Pekan Seni dan Budaya, juga telah dipergelarkan pada Acara EXPO 2000 dan Pergelaran Seni dan Budaya se Sumatera Barat di Taman Budaya Padang pada tahun 2001.

Ratok berarti Ratap - maratok artinya meratap - meratapi. Karena pada mulanya kesenian ini memang diperuntukan sebagai sarana untuk meratapi atas meninggalnya seseorang. Caranya dengan menyebut-nyebut sambil mendendangkan bersama-sama oleh para karib kerabat, bako dan tetangga, semua perangai/tingkah laku si mayit semasa hidupnya hingga wafat.

Lahirlah istilah “Ratok Pertolongan” karena apabila dalam keluarga si mayit tidak ada yang dapat melantunkan Ratok maka harus dimintai tolonglah pada orang/kelompok profesional, dengan membayar sejumlah uang - kira-kira - mungkin seperti “seksi ngangis” pada upacara prosesi kematian orang Tionghoa.

Tahun batuka, musim bagonti (Tahun bertukar, musim berganti). Misi kesenian ini yang pada mulanya hanya untuk meratapi kematian akhirnya berubah. Setelah berganti nama dengan nama menjadi “Marungguih” kesenian ini lebih identik untuk “Baibi-ibo” (mengiba-iba), meratapi nasib dan peruntungan nasib dan peruntungan baik yang tidak berpihak padanya. Kaum muda memanfaatkan Marunguih ini untuk bersenandung ria demi sekedar melepaskan beban rindu dendam yang menyesakkan dada pada sang kekasih. Ini juga perlu diketahui oleh pembaca, bahwa pada zaman itu, bagi sepasang kekasih, jangankan untuk bercengkrama - berpapasan dijalan saja sudah diterima sebagai suatu karunia yang amat besar, laksana mukjizat.

Sumber : Syahruddin - Kades Silungkang Oso. Buletin Koba PKS (Media Komunikasi Interaktif PKS (Persatuan Keluarga Silungkang) Jakarta)

READ MORE - Seni Musik: Talempong Botuang silungkang

Seni Musik Tradisional: Talempong Botuang silungkang

Seni Talempong Botuang jo Ratok Silungkang Oso
Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya, lain daerah lain pula kebiasaannya. Setiap daerah punya ciri khas, baik bahasa, seni dan budaya. Barangkali tak salah pepatah mengatakan bahwa “Bahasa menunjukkan bangsa”.


Silungkang, termasuk Kotamadya Sawahlunto mempunyai Rabona Marapulai (Rebana Pengantin), Pidato Adek, kain songket, sapu ijuak, ale-ale dan ulek-ulek, dan lain-lain. Kesenian Silungkang asli yang saat ini tak lagi dapat kita nikmati dan tak mustahil generasi yang saat ini berusia dibawah lima puluh tahun tidak pernah mengenal dan mendengarnya. Kesenian itu adalah “Talempong Botuang dan Ratok Silungkang Tuo” yang lebih dikenal sebagai “Marungguih”.


Talempong Botuang dan Ratok Silungkang Tuo adalah kesenian lama Silungkang yang dahulunya dimainkan oleh kaum ibu di rumah, di sawah atau di ladang untuk sekedar menghilangkan kepenatan setelah bekerja seharian. Biasanya kesenian ini dimainkan di dangau sambil berleha-leha. Syairnya sangat didominasi oleh pantun parosaian (meratap) dan pantun kerinduan pada anak dan suami tercinta nun jauh di rantau orang (diera tersebut perantau Silungkang jarang sekali yang menyertakan istri dan kalau ada - anak lelakinya - sementara si istri ditinggal di kampung dengan segala penderitaannya - lahir batin - karena tak jarang “mungkin karena terpaksa keadaan” sang suami” Taposo bauma lo” (Terpaksa berumah) di rantau urang.
Kato ughang saisuak : “Lautan sakti rantau batuah”
Perlu diketahui di zaman itu merantau di Sawahlunto atau di Solok saja (yang jaraknya tak menjadikan kita musafir, sudah dianggap merantau).


Di era tahun 50 an “Talempong Botuang jo Ratok Silungkang Tuo”, ini pernah disosialisasikan kepada kerabat muda. Tapi sayang … umurnya pun muda. Sejak tahun 1955, kedua keseninan itu seperti lenyap ditelan bumi.
Rupanya, nasib masih berpihak pada Silungkang. Saat ini, siapa saja yang ingin menikmati kesenian yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara ditabuh tersebut sudah dapat menikmatnya kembali. Hal ini dimungkinkan karena Silungkang masih menyisakan seorang seniman yang masih konsisten untuk tetap memelihara dan melestarikannya. Beliau itu adalah Datuak Umar Malin Parmato.


Bersama Dinas Kebudayaan, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto beliau saat ini telah membina sebuah grup kesenian Talempong Botuang jo Ratok Silungkang Tuo, di Sungai Cocang. Dan sudah pula dimasukkan ke dalam pelajaran ekstra kurikuler di SD No. 13 Sungai Cocang.


Kiprahnya cukup membanggakan. Selain penampilan perdananya di Sawahlunto pada acara Pekan Seni dan Budaya, juga telah dipergelarkan pada Acara EXPO 2000 dan Pergelaran Seni dan Budaya se Sumatera Barat di Taman Budaya Padang pada tahun 2001.


Ratok berarti Ratap - maratok artinya meratap - meratapi. Karena pada mulanya kesenian ini memang diperuntukan sebagai sarana untuk meratapi atas meninggalnya seseorang. Caranya dengan menyebut-nyebut sambil mendendangkan bersama-sama oleh para karib kerabat, bako dan tetangga, semua perangai/tingkah laku si mayit semasa hidupnya hingga wafat.


Lahirlah istilah “Ratok Pertolongan” karena apabila dalam keluarga si mayit tidak ada yang dapat melantunkan Ratok maka harus dimintai tolonglah pada orang/kelompok profesional, dengan membayar sejumlah uang - kira-kira - mungkin seperti “seksi ngangis” pada upacara prosesi kematian orang Tionghoa.


Tahun batuka, musim bagonti (Tahun bertukar, musim berganti). Misi kesenian ini yang pada mulanya hanya untuk meratapi kematian akhirnya berubah. Setelah berganti nama dengan nama menjadi “Marungguih” kesenian ini lebih identik untuk “Baibi-ibo” (mengiba-iba), meratapi nasib dan peruntungan nasib dan peruntungan baik yang tidak berpihak padanya. Kaum muda memanfaatkan Marunguih ini untuk bersenandung ria demi sekedar melepaskan beban rindu dendam yang menyesakkan dada pada sang kekasih. Ini juga perlu diketahui oleh pembaca, bahwa pada zaman itu, bagi sepasang kekasih, jangankan untuk bercengkrama - berpapasan dijalan saja sudah diterima sebagai suatu karunia yang amat besar, laksana mukjizat.


Sumber : Syahruddin - Kades Silungkang Oso. Buletin Koba PKS (Media Komunikasi Interaktif PKS (Persatuan Keluarga Silungkang) Jakarta)

READ MORE - Seni Musik Tradisional: Talempong Botuang silungkang

Gamelan Masuk Daftar Warisan Budaya Malaysia

gamelan

Tak hanya memuat daftar 100 makanan yang masuk daftar makanan warisan budaya Malaysia, laman Jabatan Warisan Negara, Kementerian Penerangan, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia, http://www.warisan.gov.my, juga memuat daftar kesenian dan budaya Malaysia.
Dalam daftar tersebut terdapat 17 kesenian dan budaya Malaysia. Dalam daftar yang diperbarui pada 17 Juni 2009, alat musik gamelan ada di urutan ketiga. Dalam daftar tersebur juga ditulis Tulisan Jawi.

Jangan dulu emosi, tulisan Jawi yang dimaksud bukan aksara Jawa.
Penelusuran VIVAnews, sebelum menggunakan aksara Romawi, naskah-naskah dalam bahasa Melayu ditulis menggunakan tulisan Jawi.
Sementara gamelan yang ada di Malaysia sama dengan gamelan yang berasal dari Jawa. Alat-alatnya terdiri dari Gong Agong, Gong Sawokan, Gendang Ibu, Gendang Anak, Saron.
Dilihat dari sejarahnya, gamelan di Malaysia kali pertamanya diperkenalkan di Pahang, saat pemerintahan Sultan Ahmad Muaddzam Shah. Permaisurinya, Fatimah dan istri kedua Sultan, Che Bedah ikut berperan menyebarkan gamelan.
Sekitar tahun 1913, gamelan menyebar ke Terengganu,dibawa oleh putri Sultan Pahang, Mariam yang menikah dengan Sultan Terengganu saat itu, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah.
Sultan Sulaiman bahkan menciptakan berbagai lagu dan tarian, termasuk lambang sari, geliung, ketam renjong, togok, gagak seteru, lancang kuning dan sebagainya.
Berikut daftar kesenian dan budaya Malaysia.

1. Boria
2. Tarian Zapin
3. Gamelan
4. Tarian Bhangra - Kaum Sikh
5. Tarian Bharata Natyam - Kaum India
6. Gendang Dua Puluh Empat Perayaan (Gendang Cina)
7. Dikir Barat
8. Pantun Melayu
9. Syair
10. Karya Pendeta Za'aba
11. Tulisan Jawi
12. Hikayat Munshi Abdullah
13. Wau Malaysia
14. Congkak
15. Gasing
16. Hikayat Malim Deman
17. Hikayat Merong Mahawangsa

Sumber:http://nasional.vivanews.com/news/read/92517-gamelan_masuk_daftar_warisan__budaya_malaysia

READ MORE - Gamelan Masuk Daftar Warisan Budaya Malaysia

Kesenian Saman

Kali ini layak kita ketengahkan salah satu objek wisata di Pandeglang, yaitu Kampung Sukacai di Carita. Di kampung ini terdapat kelompok seni 'Saman' yang hampir punah di Banten. Kelompok mereka biasanya diundang untuk memeriahkan pesta pernikahan atau pesta khitanan. Seni Saman dapat digambarkan sebagi gabungan antara seni suara dan seni perkusi. Alat-alat musik perkusi ini cukup sederhanan terbuat dari bambu dan kulit lembu pilihan. Dimainkan atau dinyanyikan dengan berkelompok terdiri dari 8 atau 10 orang pemain.

Seni Saman sesungguhnya bukan hanya seni memainkan musik biasa, tetapi lebih berkaitan dengan prosesi spiritual yang pada saat ini unsur-unsur islam masuk ke dalamnya, seperti lantunan-lantunan shalawat Nabi serta puji-pujian akan asma Allah.

Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang

Source : baduy.comuv.com

Sumber:http://cintapandeglang.com/seni-dan-budaya

READ MORE - Kesenian Saman

Seni Tari: Masalah Tari Pendet, Indonesia Protes Malaysia

tari pendet

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, mengatakan, telah mengirimkan nota protes kepada Pemerintah Malaysia terkait kasus penggunaan Tari Pendet oleh Malaysia dalam iklan pariwisatanya. Dalam surat tersebut, Jero juga mengurai kasus akui-mengakui budaya Indonesia sepanjang dua tahun terakhir, dan meminta tanggapan dari pihak Malaysia.


Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan, Indonesia harus keras dalam menangani kasus ini. Ia mengatakan, hasil penelusuran sejauh ini mulai ada beberapa pihak yang mengaku "dosa" atas munculnya Tari Pendet dalam iklan pariwisata Malaysia. "Setelah kita gebrak, sudah ada satu-dua yang merasa bersalah dan ngaku, seperti pihak production house yang membuat iklan itu," ujar Jero, Senin (24/8) di Jakarta.


Selain itu, Wakil Duta Besar Malaysia Amran Mohammad Zein, Senin (24/8) siang ini, mengatakan, iklan yang ditayangkan di saluran televisi Discovery Channel tersebut dibuat oleh pihak swasta, bukan pemerintah. Lantas, bagaimana tanggapan Jero? "Saya belum menanggapi permintaan maaf production house karena disampaikan melalui e-mail. Tidak sopan. Kita harus berwibawa dan bermartabat," tukas Jero. Ia menambahkan, pihaknya tengah menunggu permintaan maaf resmi dari pemerintah Malaysia. (HIN). By:www.sungaikuantan.com


Sumber: http://oase.kompas.com

READ MORE - Seni Tari: Masalah Tari Pendet, Indonesia Protes Malaysia

Gamelan Shokbreker di Java Jazz

Gamelan Shokbreker merupakan kolaborasi yang tumbuh dari pertemanan musisi Indonesia dan Norwegia. Saksikan penampilan unik mereka di Java Jazz 2009 di Jakarta.

26/02/2009 :: Proyek khusus ini, yang pertama kali ditampilkan di Festival Musik Dunia Oslo 2006, merupakan hasil kolaborasi kreatif selama satu tahun antara musisi handal Patrick Shaw Iversen dan Ismet Ruchimat. Dalam perjalanan karir musik mereka, tradisi dari kedua negara muncul dan membuka bab baru dalam perkembangan sejarah musik gamelan.
Para musisi termasuk 10 musisi gamelan dari SambaSunda yang terkenal di bawah pimpinan Ismet Ruchimat, termasuk vokalis muda yang memikat bernama Rita Tila, serta musisi Norwegia yaitu pemain flute Patrik Shaw Iversen dan Peter Baden di alat musik elektronik.
Konser ini juga akan menampilkan kualitas vokal prima Euis Komariah, yang dikenal sebagai salah satu vokalis terkenal dalam tradisi Sunda.

Gamelan Shokbreker
Artis Utama
Ismet Ruchimat
dan ansambel gamelannya banyak dicari dan telah melakukan tur keliling Indonesia, Asia Selatan, Amerika dan Eropa. Diantaranya, Ismet telah tampil bersama Hariprassad Chaurassia dan Trilok Gurtu. Ismet juga merupakan komposer yang banyak dicari dan guru di STSI Seni di Bandung/Jawa Barat.
Ismet termasuk dalam generasi musisi tradisional di Jawa yang lebih muda dan lebih moderen. Ia telah menelurkan beberapa album rekaman dengan komposisinya sendiri dan aransemen musik Jawa tradisional. Satu elemen penting musik gamelan tradisional di Indonesia adalah elemen pembaharuan. Musik gamelan harus diperbaharui dan dikembangkan agar tidak stagnan. Dalam hal ini, Ismet selangkah lebih mau dengan berkolaborasi dengan bentuk musik dari Negara lain tanpa kehilangan dasar tradisinya sendiri.

Ismet Ruchimat
Patrick Shaw Iversen merupakan pelopor flute dengan gaya dan bunyinya yang tidak lazim. Peter mulai mengenal flute sejak usia sembilan tahun dan merupakan salah satu dari sedikit musisi flute di Norwegia yang mendalami jazz dan musik improvisasi. Dalam perjalanan karirnya, Patrick telah berkolaborasi dengan Sidsel Endresen, on/off, Gamelan Shokbreker, Arve Henriksen, DJ Strangefruit, Inga Juuso, Roger Ludvigsen, Søyr, Arild Andersen, Torgrim Sollid, Nils Petter Molvaer, Tore Brunborg, Bugge Wesseltoft, Pål Thowsen, Audun Kleive. Patrick telah menggubah musik untuk pertunjukan teater dan tarian, serta menelurkan tiga album CD (album terakhir: ‘On/Off’ Jazzland Records.)
Dalam 30 tahun terakhir, Patrick telah melanglang berbagai festival, klub dan teater di Perancis, Belanda, Spanyol, Polandia, Jerman, Belgia, Italia, Inggris, Jawa, Sumatera, Turki, Swedia, Amerika, Finlandia, Republik Czech, India, Nepal dan Bangladesh. Ia banyak mendapat pengaruh kuat dari musik gamelan Bali dan Jawa dan menghabiskan satu tahun di Jawa untuk mempelajari teknik suling Jawa. Hal ini, digabungkan dengan ketrampilannya dalam alat music elektronik memberinya gaya yang unik sebagai inovator instrument musik yang dikuasainya.
Musisi Pendukung
RITA TILA berasal dari keluarga musikus di Jawa Barat dengan akar musik tradisional Sunda. Rita merupakan vokalis muda dengan suara yang memikat, yang termasuk dalam generasi musisi muda dan moderen di Indonesia dan diperhitungkan sebagai salah satu vokalis ternama dalam musik Jawa Barat saat ini. Rita mengenyam pendidikan di STSI Institut jurusan musik tradisional di Bandung dan telah berkeliling ke Eropa, Amerika, dan Asia bersama dengan Samba Sunda dibawah pimpinan Ismet Ruchimat, serta turut ambil bagian di proyek Gamelan Shokbreker pada tahun 2006 dimana ia bekerja sama dengan musisi jazz moderen ternama Norwegia.
PETER BADEN adalah Produser / Komposer / Musisi / Drummer dari Oslo, Norwegia. Produser/Penata Lagu/Remixer album "REWORKS,- What kind of machine is this" dengan nama samara "CHILLINUTS". Peter juga merupakan co-producer, programer, dan pemain music di album terakhir MARI BOINE "In the hand of the night". Sebagai musisi, Peter telah tampil bersama musisi lain seperti Mungolian Jet Set, Mari Boine, Hanne Hukkelberg, Sternklang, Chillinuts, Bermuda Triangle, Nils Petter Molvaer, Eivind Aarset, Erik Faber, A1, Helene Bøksle, Inga Juuso, Ailu Gaup, Perculator, Anjii, Shokbreker Service, Gamelan Shokbreker, Solveig Kringleborn, Evolving European, serta masih banyak lagi. Pada umumnya musik Peter beraliran improvisasi elektronik dan ia telah melakukan tur sebagai live musician bersama dengan Mari Boine, Hanne Hukkelberg, Gamelan Shokbreker, Sternklang, Inga Juuso, Shokbreker Service dan lain-lainnya. Saat tampil di pertunjukkan langsung, Peter menabuh drum dan perkusi serta melakukan dubbing langsung, sampling dan bekerja dengan mesin dan komputer.
MUSISI LAINNYA:
Patrick Shaw Iversen Komposer, Flute, Elektronik
Ismet Ruchimat Komposer, Bonang, Suling
Peter Baden Elektronik, Perkusi
Euis Komariah Lead Vocal
Rita Tila Lead Vocal
Atjep Hidayat Saron, Bonang
Atang Suryaman Kendang
Endang Ramdan Kendang
Endi Supendi Saron 2, Terbang
Rudi Mukhram Vocals, Terompet
Yadi Cahyadi Rebab, Jenglong
Asep Yana Karyana Suling, Jenglong
Iman Lukman Hakim Saron
Dinda Satya Rincik
Minggu, 8 Maret 2009
Jakarta Convention Centre
Jl. Jend. Gatot Subroto

Sumber:http://www.norwegia.or.id/culture/music/jazz/

Gamelan+Shokbreker+Java+Jazz.htm

READ MORE - Gamelan Shokbreker di Java Jazz

Arsip Blog

Seni-Art