Seni Musik, Tari, Teater, Sastra, Karawitan (Tradisional), Rupa (Desain), Mancanegara

Translate

Tampilkan postingan dengan label Seni Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Sastra. Tampilkan semua postingan

Seni Sastra Cerita Rakyat Kuansing: Ombak Nyalo Simutu Olang

Ombak Nyalo Simutu Olang

Ombak Nyalo Simutu Olang adalah sebuah cerita yang telah melegenda di Kabupaten Kuantan Singingi, tepatnya di Desa Pangean. Cerita ini masih melekat erat pada masyarakat Pangean. Bahkan nama Ombak Nyalo Simutu Olang digunakan sebagai nama Jalur di ajang Pacu Jalur, sebuah kebudayaan Kuantan Singingi yang telah menjadi event nasional serta masuk agenda wisata Nasional.
TEMPAT KEJADIAN
Cerita ini tejadi di sebuah desa yang bernama Pangean. Tepatnya disebuah sungai yang bernama Batang Pangean. Pangean adalah suatu negeri yang terletak dalam daerah Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi.
Tidak berapa jauh dari Pasar Usang, disebelah baratnya mengalir sebuah sungai Batang Pangean. Sungai itu berasal dari anak-anak sungai yang terkenal dengan nama sungai Tesso. Didalam sungai ini hidup berjenis-jenis ikan yang dapat menambah penghasilan rakyat yang hidup disekitarnya.


Apabila sungai ini banjir, air bergerak naik, ikan-ikan mulai memasuki sungai melalui sungai kuantan. Melihat ikan yang begitu banyak, penduduk Pasar Usang dan sekitarnya berebut-rebut menahan lukah untuk menangkap ikan yang masuk menuju ke hulu sungai.Salah satu tempat berkumpulnya ikan-ikan itu adalah disuatu lubuk yang bernama Lubuk Sayak.
Dilubuk inilah masyarakat berebut-rebut memasang lukah, menjala, merosok, meambai dan memosok. Musim kemarau, masyarakat bersiap-siap membuat lukah, jala, ambai dan posok. Alat penangkap ikan yang dianggap paling praktis digunakan untuk menangkap ikan adalah lukah. Untuk daerah rantau kuantan jika air meluap.


Masyarakat disekitar lubuk sayak telah mempersiapkan lukah. Negeri Pangean merupakan suatu negeri yang mempunyai banyak ragam kebudayaan di daerah rantau kuantan. Negeri Pangean merupakan pusat pengembangan olah raga bela diri yang terkenal dengan nama ‘Silat Pangean’.


Menurut orang tua-tua di Pangean ini banyak sekali cerita-cerita rakyat, yang bukti peninggalan cerita itu masih dapat dilihat dan dibuktikan kebenarannya. Dalam buku ini, cerita yang akan diungkapkan, adalah cerita “Ombak Nyalo dan Simutu Olang”.


Jarak negeri Pangean ke kota Teluk Kuantan lebih kurang 35 Km, dengan Pasar Baserah 7 Km. Masyarakat Pangean hidup dari hasil pertanian dan perkebunan. Seni bela diri yang terkenal di daerah ini adalah silat pedang, silat tangan dan silat perisai yang tetap berkembang dan lestari hingga sekarang ini. Kemampuan guru-guru silat dalam mempertahankan dirinya di negeri ini telah banyak membuktikan kemampuannya baik didalam maupun diluar daerah Rantau Kuantan Singingi. Dalam lingkungan pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi, daerah Pangean terletak antara Kecamatan Benai dan Kecamatan Kuantan Hilir. Negeri tetangga yang terdekat dengan Pangean adalah disebelah barat Simandolak dan Siberakun dan disebelah timur berbatasan langsung dengan Baserah.

DUA SEKAWAN MEMASANG LUKAH
Salah satu alat penangkap ikan di negeri Pangean adalah lukah, lukah ini ada yang kecil, ada yang menengah dan ada yang besar. Yang kecil ini untuk menangkap ikan yang kecil, lukah yang sedang untuk menangkap ikan yang sedang pula, sedangkan lukah yang besar untuk menangkap ikan yang besar seperti ikan tapah dan patin.
Menangkap ikan adalah merupakan kegemaran masyarakat. Kebiasaan masyarakat, sebelum membangkit lukah yang besar, mereka terlebih dahulu menjenguk lukah yang kecil yang dipasang dalam sungai-sungai kecil. Menurut lazimnya mereka kerjakan kalau air banjir lukah-lukah penuh berisi ikan lampan atau sejenisnya.

Dua orang datuk yang sangat akrab, yaitu Datuk Topo, penghulu suku Melayu dengan Datuk Siak Pokih penghulu suku Paliang, keakraban kedua datuk ini sangat tinggi. Mereka seperti merpati dua sejoli, laksana pohon aur dengan tebing, seperti kuku dengan jari. Keakraban itu sampai memasang lukah di lubuk sayak. Kalau mendapat ikan selalu dibagi sama banyak. Kalau ikan dijual, ya sama dijual. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, pada hari pertama kejadian, dua sekawan menjenguk lukahnya tak berisi sama sekali. Umpan dalam lukah habis dimakan ikan, namun ikannya entah kemana. Dalam hati kedua datuk timbul tanda tanya, kecurigaan mulai datang, keinginan untuk membuktikan kasus ini mulai tumbuh, Untuk membuktikan kecurigaan ini, masing-masing mulai menyelidiki.

Siapa pelaku pencuri ikan dalam lukah mereka berdua. Selesai sholat subuh kedua datuk yang sehati dan sejiwa ini berangkat untuk mencari tau siapa yang sebenarnya telah mengambil ikan yang ada didalam lukah mereka. Di pagi buta itu Datuk Topo dan Datuk Siak Pokih bergerak mendekati lukah pertamanya dari kejauhan mereka melihat seorang gadis cantik berjalan di dekat lukah yang sedang terpasang. Gadis itu langsung mengangkat dan mengambil ikan yang ada pada lukah tersebut, pada mulanya kedua datuk ini tidak percaya gadis itu pencuri ikan dalam lukahnya, karena wajahnya yang cantik dan bentuknya yang menarik tidak mungkin seorang pencuri. Kemudian kedua datuk sekawan itu terus mengintip dan mengikuti gerak-gerik gadis itu sampai kepada lukah yang kedua.

Sampai pada giliran pada lukah yang ketiga hari pun sudah semakin terang, wajah sang pencuri semakin jelas, dengan sangat berhati-hati sampai kepada lukah yang keempat, lirikan dan pandangan mata gadis yang menawan itu semakin liar, gerak geriknya semakin mencurigakan, setelah pandang melayang jauh tak ada yang dikuatirkan gadis itupun turun membangkit lukah dan mengambil ikan yang ada di dalam lukah tersebut. Dalam keadaan mengambil ikan itulah, tiba-tiba datuk dua sekawan keluar dari semak-semak dan langsung dan mempergoki dan menangkap sipencuri, tanpa mengadakan perlawanan sipencuri digiring mereka masuk desa.

GADIS KAYANGAN TERTANGKAP MENCURI IKAN
Pagi itu, matahari mulai memancarkan cahayanya menerangi bumi. Sipencuri yang telah berpraktek selama 3 hari, akhirnya tertangkap tangan. Satu-satunya jalan bagi pencuri harus mengakui perbuatannya yang terlarang, dua sekawan tak mau main hakim sendiri. Sipencuri langsung dihadapkan kepada ninik mamak untuk diadili dan diberi hukuman sesuai dengan perbuatannya.

Sebelum gadis cantik itu diberi hukuman oleh ninik mamak, terlebih dahulu sipencuri ditanya oleh dua sekawan, siapa namanya, nama ayah, negeri asal, nama sukunya dan pekerjaannya.
Gadis itu menjawab: “Nama saya adalah Dayang Pinang, anak dari orang bunian, tidak bersuku dan tidak berkampung. Saya adalah seorang gadis yang diusir oleh ibu dan ayah, karena melanggar larangan dan pantangan dalam masyarakat jin di alam kayangan. Saya tidak dibenarkan lagi kembali ke alam kayangan. Kesetiaanku telah dicabut dan saya tidak mungkin untuk kembali lagi ke asalku, karena hidupku yang terlunta-lunta, kepada siapa saya akan mengadu, saya mencuri karena terpaksa. Disamping pekerjaan ini saya lakukan adalah dengan tujuan dan maksud yang terkandung dalam hati, agar saya ditangkap oleh para penghulu dan datuk di negeri ini. Saya telah tahu, bahwa datuk-datuk penghulu dua sekawan tidak akan menyiksa saya, seandainya saya mereka tangkap sekaligus akan mengetahui nasib dan penderitaan bathin yang sedang saya tanggungkan. Seandainya datuk penghulu memang marah pada kelakuan dan perbuatan saya yang tidak baik dan sangat dilarang di desa ini saya mohon ma’af dan berjanji tidak akan melakukan lagi.”

Mendengar pengakuan gadis yang cantik ini, datuk dua sekawan timbul rasa belas kasihan. Mereka berkata: “ Kami tidak akan menghukum, kami akan menjadikan anak kami. Walaupun kamu berasal dari bangsa jin.” Gadis cantik itu berkata : “karena saya telah mengucapkan janji, maka saya akan mengikuti perintah datuk. Kalau saya dibuang akan jauh, kalau digantung saya akan tinggi.”

Menyimak ucapan dan penyampaian gadis ini, datuk penghulu yang berdua, lembaga adat negeri memutuskan : “Kami dari lembaga adat dari suku-suku yang ada dalam negeri, memutus dengan mempertimbangkan pengakuan dari gadis kayangan serta pernyataan yang disampaikan oleh kedua datuk pimpinan suku dalam negeri, bahwa gadis kayangan ini dikembalikan kepada datuk yang berdua.” Demikian pelaksanaan rapat yang berlangsung selama tiga batang rokok ini. Untuk sementara, sesuai dengan perundingan dua sekawan, gadis cantik ini dibawa dahulu kerumah Datuk Topo, penghulu suku Melayu. Tentang ketentuan selanjutnya akan dimusyawarahkan setelah situasi agak tenang.

Kedua datuk ini mengadakan pertemuan, mendudukkan permasalahan gadis yang mereka pungut sewaktu mencari ikan, maka terjadi pertengkaran antara Datuk Topo dengan Datuk Siak Pokih. Datuk Topo berkata : “Kalau gadis ini tidak didudukkan permasalahannya, nasibnya akan sama dengan nasib yang sebelumnya. Saya menginginkan agar dia masuk kedalam suku melayu, karena suku melayu Negeri Pangean ini termasuk suku yang terbesar. Kalau dia masuk suku melayu berarti pemuda dari suku Paliang dan suku Cermin dapat melamarnya untuk dijadikan istri. Seandainya dia tidak dijadikan anak angkat, maka akan berezki adalah orang luar, kita yang merugi.”

Pendapat dan saran yang diutarakan Datuk Topo ini tidak mendapat sambutan yang baik oleh Datuk Siak Pokih. Mereka masing-masing ingin memiliki gadis cantik itu. Pertengkaran kedua sekawan ini tak kunjung berpangkal dan berujung dan mengarah kepada perkelahian mulut dan akan disudahi oleh bentrokan fisik. Keakraban yang terjalin baik selama ini akan pecah, akibat masing-masing mempertahankan pendapat dan keinginan.

Datuk Topo berkata : “Saya tidak menginginkan persahabatan kita yang baik dan kokoh, seperti kuku dengan jari, sekarang akan pecah dan pecahannya akan sirna karena permasahan ini. Terakhir saya nasehatkan, baik kita adakan pertandingan antara dubalang Suku Melayu dengan Dubalang Suku Paliang. Dubalang yang menang dalam pertandingan perkelahian, maka dialah yang berhak mengawini atau menikahi gadis kayangan itu. Yang kalah janganlah berkecil hati, karena masing-masing telah berusaha untuk mendapatkan gadis tersebut.” Pendapat Datuk Topo ini diterima oleh ketua penghulu. Sebagai tanda setuju perlu disadari: “Semenjak kita muda selalu kompak, serumpun bagaikan serai, sebungkus bagaikan nasi, sedoncing bak besi, seciok bak ayam, setelah tua, senja mulai melintas, cahaya kelabu telah terbentang luas, suatu pertanda umur kita tidak beberapa lagi, ajal telah menunggu, kematian datang menjemput, dunia akan ditinggalkan, kehidupan di akhirat perlu jadi perhatian.” Dasar permupakatan itu ditetapkan hari pertandingan perkelahian.

Datuk Penghulu Sutan menetapkan : “Pertandingan itu akan kita adakan tiga bulan lagi.” Datuk Topo menyetujui apa yang dikatakan oleh Datuk Penghulu Sutan. Hasil perundingan yang telah disepakati oleh Datuk Topo kemudian disampaikan kepada Jurai Monti dan Dubalang. Karena Dubalang suku Paliang pada waktu itu tidak ada, maka menurut para Monti baiknya didatangkan dubalang dari Kuntu Darussalam sebagai dubalang kita, dan dialah yang akan mewakili dubalang suku Paliang dalam pertandingan esok.

Menurut Datuk Siak Pokih : “Dubalang dari Kuntu Darussalam itu memang baik, punya ilmu kebathinan yang banyak.” Seorang Monti bertanya : “Kami dari Jurai Monti ingin tahu siapa nama dari dubalang kita itu?”, jawab Datuk Siak Pokih : “Namanya adalah Simutu Olang” Merupakan dubalang yang terkenal dari daerah Kampar Kiri. “Kalau begitu kami dari Monti setuju yang akan bertanding itu adalah Dubalang Simutu Olang, yang diharapkan akan dapat membawa nama baik Suku Paliang.” Monti yang lain berkata : “Mumpung kita dalam mupakat, saya mengusulkan, sebelum akan bertanding, Simutu Olang sudah berada di kampung ini, gunanya untuk mengatur siasat dan strategi yang sangat perlu kita bicarakan.”

Kata Datuk Siak Pokih : “Dalam bertanding, kita jangan memperlihatkan keangkuhan dan kesombongan, kalau kita kalah, kita akan mengakui kekalahan kita, kita harus mengakui kehebatan dan kepintaran lawan. Juga sebaliknya kalau kita menang mereka harus mengakui kemenangan kita.” Setelah ada kesepakatan perundingan, masing-masing setuju untuk mendatangkan Simutu Olang untuk bertanding, dengan kekompakan para Monti demi melaksanakan keputusan datuk dua sekawan masing-masing setuju, semoga segala rencana akan berjalan dengan sukses dan lancar. Dengan adanya pertandingan ini, dikedai-kedai kopi muncul berbagai pendapat. Pendapat-pendapat itu mulai simpang siur. Disebuah kedai kopi seorang datuk penghulu berkata : “Dahulunya Datuk Topo dan Siak Pokih selalu kompak, mereka tak berselisih paham atau berbeda pendapat. Mereka sangat serasi, bahkan silang sengketapun jauh dari mereka. Mereka selalu ikut mengikuti, seiya sekata. Bak pepatah berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing, manis sama ditelan, pahit sama dimuntahkan, ke bukit sama mendaki kelurah sama menurun. Tuhan maha kaya yang dapat menciptakan isi alam ini terdiri dari berpasangan dan ada yang berlawanan.

Misalnya ada yang pintar dan ada yang bodoh, persatuan lawannya perpecahan, baik lawannya buruk. Benar sekali apa yang diucapkan orang-orang cerdik pandai dahulunya itu. Bak kata pemuka adat : “Sifat yang sama jangan dipertemukan. Yang harus dipertemukan adalah sifat dan pendapat yang berbeda.” Seisi kedai kopi duduk terdiam mendengarkan perkataan datuk itu. Datuk itu meneruskan lagi perkataannya : “Perbedaan itu dalam negara kita ini, membawa kepada kebenaran yang hakiki. Kadangkala sifat yang sama akan membawa kepada kehancuran, sama-sama sabar mendatangkan malapetaka yang membawa kepada kefatalan. Tuhan telah menciptakan mahluk di dunia ini tidak ada yang sama. Kalau sama tapi berbeda. Kata orang sekarang, serupa tapi tak sama.

Sama bentuk fisik, berbeda pada sikap. Sama wataknya tapi bentuk kulit dan mukanya berbeda. Demikian tuhan menjadikan alam ini sangat bervariasi. Ada gunung ada lembah dan ngarai, ada padang pasir ada hutan belantara, ada samudera dan ada daratan yang maha luas. Ada sungai-sungai yang panjang dan berhenti-hentinya air mengalir ke muara. Dilangit ada bulan, bintang, awan dan hujan, cuaca mendung yang tebal dan gelap, sering-sering diiringi cahaya yang terang dan cerah. Hewan berkeliaran diatas dunia ini juga demikian. Ada yang jinak ada yang liar, ada yang buas dan ada yang memamabiak, ada yang besar dan ada yang paling halus bahkan sangat kecil. Diudara berterbangan burung-burung yang bulunya beraneka ragam, ada yang suaranya merdu menarik perhatian orang.

Pokoknya tidak ada yang sama, tempat sama waktu berbeda. Begitu pula Datuk Topo dan Siak Pokih, dulunya kompak, seiya sekata yang kini telah pecah. Dialam ini tidak ada yang kekal dan abadi, sifatnya selalu berobah. Memang begitu sifat dan kodratnya. Kalau kita mendapat dukungan dari penguasa, dukungan itu hanya sementara. Didesa ini yang berkuasa dalam adat adalah datuk penghulu dan ninik mamak. Penghulu punya anak, cucu dan kemenakan. Punya tanah ulayat yang dipersiapkan untuk kemenakan, mamak dalam adat berfungsi biangkan mencabik, gentingkan diputus, membuang jauh, menggantungkan tinggi, menghitam memutihkan. Yang bersalah dihukum yang berhutang membayar, tangan mencencang bahu memikul. Datuk dua sekawan sama-sama berminat untuk memiliki gadis cantik itu, akhirnya mereka bertengkar yang disudahi dengan adu dubalangnya. Inilah salah satu cara yang diambil jalan keluar untuk menghilangkan rasa ketidaksenangan diantara mereka berdua, adil dalam menimbang, tepat dalam mengukur, akan menghasilkan keputusan yang benar, yang akan dipegang erat, dituruti dan dipatuhi oleh anak cucu dan kemenakan dalam nagori.
(Bersambung………………...) Source: pangean.wordpress.com… Resource: www.ronaldorozalino.com

READ MORE - Seni Sastra Cerita Rakyat Kuansing: Ombak Nyalo Simutu Olang

Seni Sastra : Pantun Melayu

Peranan pantun dalam kehidupan orang Melayu, dapat disimak dari untaian ungkapan berikut:

Apa guna orang bertenun
Untuk membuat pakaian adat
Apa guna orang berpantun
Untuk mengingat petuah amanat

Apa guna orang bertenun
Untuk membuat kain dan baju
Apa guna orang berpantun
Untuk mengangkat tuah Melayu

Apa guna orang bertenun
Untuk membuat pakaian budak
Apa guna orang berpantun
Untuk mengajar hukum dan syarak

Apa guna orang bertenun
Untuk membuat kain cindai
Apa guna orang berpantun
Untuk membaiki laku perangai

Apa guna orang bertenun
Untuk membuat pakaian nikah
Apa guna orang berpantun
Untuk menyampaikan petuah amanah

Apa guna orang bertenun
Untuk membuat kain pelekat
Apa guna orang berpantun
Untuk mengkaji adat istiadat

Apa guna orang bertenun
Untuk membuat kain selerang
Apa guna orang berpantun
Untuk mengisi mana yang kurang

Apa guna orang bertenun
Untuk membuat kain dan baju
Apa guna orang berpantun
Untuk menimba berbagai ilmu

Kalau orang melabuh pukat
Carilah pancang kayu berdaun
Kalau kurang mengetahui adat
Carilah orang tahu berpantun

Kalau kayu hendak ditarah
Keratlah cabang dengan daunnya
Kalau ilmu hendak bertambah
Dekati orang dengan pantunnya

Apalah guna daun kayu
Untuk tempat orang berteduh
Apalah guna pantun Melayu
Untuk tempat mencari suluh

Di dalam untaian syair tunjuk ajar dikatakan:
Wahai ananda dengarlah pesan
Pantun Melayu jangan tinggalkan
Pakai oleh mu untuk pedoman
Di dalamnya banyak tunjuk ajaran
Wahai ananda intan dikarang
Pantun Melayu jangan dibuang
Di dalamnya banyak amanah orang
Untuk bekalmu di masa datang


Wahai ananda kekasih ibu
Pakai oleh mu pantun Melayu
Di dalamnya banyak mengandung ilmu
Manfaatnya besar untuk diri mu
Wahai ananda permata intan
Pantun Melayu jangan abaikan
Di dalamnya banyak mengandung pesan
Pegang olehmu jadi pedoman
Wahai ananda cahaya mata
Pantun Melayu jangan dinista
Isinya indah bagai permata
Bila dipakai menjadi mahkota
Wahai ananda bijak bestari
Pantun menjadi suluh negeri
Ilmu tersirat payah dicari
Bila disemak bertuahlah diri
Wahai ananda dengarlah amanat
Pantun memantun sudah teradat
Di dalamnya banyak berisi nasihat
Bila dipakai hidup selamat
Selanjutnya dalam untaian ungkapan adat dikatakan:


Apa tanda Melayu jati
memanfaatkan pantun ia mengerti

Apa tanda Melayu jadi
dengan pantun menunjuk ajari

Apa tanda Melayu jati
dengan berpantun ilmu diberi

Apa tanda Melayu jati
dengan berpantun membaiki budi

Apa tanda Melayu jati
dengan pantun membaiki pekerti

Apa tanda Melayu bermarwah
dengan pantun menyampaikan dakwah

Apa tanda Melayu bertuah
dengan pantun memberi petuah

Apa tanda Melayu bertuah
dengan pantun memberi amanah

Apa tanda Melayu bertuah
dengan pantun menyampaikan sunah

Apa tanda Melayu beradat
dengan pantun memberi nasihat

Apa tanda Melayu beradat
dengan pantun meluruskan kiblat

Apa tanda Melayu beradat
dengan pantun membangkitkan semangat

Apa tanda Melayu beradat
dengan pantun membaiki umat

Apa tanda Melayu terbilang
dengan pantun mengajari orang

apa tanda Melayu terbilang
dengan pantun mencelikkan orang

Apa tanda Melayu berbudi
dengan pantun membaiki diri

Apa tanda Melayu berbudi
dengan pantun mencari kaji

Apa tanda Melayu beriman
dengan pantun menerangi jalan

Apa tanda Melayu beriman
dengan pantun memberi amaran

Apa tanda Melayu beriman
dengan pantun mengenal Tuhan

Apa tanda Melayu beriman
dengan pantun membuka jalan

Apa tanda Melayu beriman
dengan pantun memberi pedoman

Apa tanda Melayu beriman
dengan pantun memberi pelajaran

Apa tanda Melayu beriman
dengan pantun ilmu disempurnakan

Apa tanda Melayu bersifat
dengan pantun ia berwasiat

Apa tanda Melayu bersifat
dengan pantun memberi ingat

Apa tanda Melayu pilihan
dengan pantun ilmu diturunkan

Apa tanda Melayu pilihan
dengan pantun ilmu disampaikan

Apa tanda melayu pilihan
dengan pantun ilmu dikembangkan

Ungkapan-ungkapan di atas menunjukkan betapa pentingnya peranan pantun dalam kehidupan orang Melayu. Melalui pantun, tunjuk ajar disebarluaskan, diwariskan, dan dikembangkan. Melalui pantun pula nilai-nilai luhur dikekalkan dan disampaikan kepada anggota masyarakatnya.

Acuan ini menyebabkan pantun Melayu, apa juga jenisnya, tetap mengandungi nilai-nilai luhur yang patut dan layak dijadikan pegangan oleh masyarakatnya. Kerananya orang tua-tua mengatakan bahwa di dalam pantun kelakar atau pantun sindiran atau pantun remaja, tetaplah terkandung nilai-nilai luhur itu. di dalam ungkapan dikatakan di dalam kelakar terdapat tunjuk ajar; di dalam seloroh ada petaruh; di dalam menyindir, terdapat tamsil. Maksudnya, di dalam pantun kelakar, pantun yang bersifat seloroh dan sindir-menyindir ataupun pantun remaja, tetap terdapat nilai-nilai luhur yang dijunjungi masyarakat, walaupun kebanyakannya tidak sesarat yang ada di dalam pantun tunjuk ajar atau pantun adat dan sejenisnya. Sudah difahami orang Melayu, dalam berpantun haruslah tetap menampilkan nilai-nilai luhurnya, menampilkan budi pekerti dan perilaku terpuji. Dalam ungkapan dikatakan di dalam berpantun, ingat sopan santun. Ungkapan lain menegaskan pantang Melayu membuang cakap, maksudnya dipantangkan bagi orang Melayu berkata yang tidak berfaedah, termasuk dalam pantun memantun. Dengan demikian, walaupun pantun itu bersifat pantun kelakar, misalnya, di dalamnya tetap terkandung nilai-nilai moral, setidak-tidaknya pantun itu tetaplah mengacu pada sopan santun Melayu. Acuan ini menyebabkan pantun semakin berperanan dalam kehidupan orang Melayu.

Dalam pantun “sindir-menyindir” misalnya, terdapat kritikan-kritikan dan “sindiran”, baik terhadap sesama anggota masyarakat mahupun terhadap penguasaannya. Namun, kritik dan sindiran dimaksud dilakukan secara halus dan penuh kesopanan, tidak mengghina dan menista, apalagi membuka aib malu orang, dan sebagainya yang dapat menimbulkan pertelingkahan atau perpecahan. Dalam ungkapan dikatakan menyindir jangan mencibir, maksudnya, menyindir ataupun mengkritik orang lain jangan menghina. Ungkapan lain menegaskan dalam menyindir gunakan fikir, maksudnya, menyindir atau mengkritik janganlah semena-mena, tetapi dilakukan secara arif dan benar, menggunakan akal dan fikiran, tidak memfitnah membabi buta dan sebagainya.

Acuan ini semakin menunjukkan betapa besarnya peranan pantun dalam kehidupan orang Melayu, kerana melalui pantun “aspirasi” masyarakat dapat disalurkan dengan baik tanpa menimbulkan perpecahan ataupun perselisihan antara sesamanya.
Peranan lain dari pantun adalah untuk “ajuk mengajuk” antara bujang dan dara. Lazimnya acara dilakukan dalam kesempatan tertentu di mana bujang dan dara berpeluang berbalas pantun. Dalam kesempatan itulah mereka “ajuk mengajuk” hati masing-masing yang sering berlanjut menjadi ikatan batin, pertunangan dan perkahwinan.

Pantun remaja (bujang dan dara) ini pun hendaknya dilakukan secara sopan dan santun serta halus, penuh dengan ungkapan-ungkapan. Orang tua-tua mengatakan dalam berbalas pantun, ingat sopan santun. Ungkapan lain mengatakan tanda orang baik hati, dalam berpantun ia berbudi atau bila hendak tahu orang berbudi, pantunnya mengandung budi pekerti.

Dalam mendendangkan anak atau menidurkan anak (dahulu lazimnya di dalam ayunan), orang tuanya membawakan lagu-lagu yang bait-bait pantunnya mengandung doa, petuah amanah, sebagai cerminan menanamkan nilai-nilai luhur mereka kepada anaknya sejak dini. Sumber:www.sungaikuantan.com

READ MORE - Seni Sastra : Pantun Melayu

Seni Sastra Melayu: Pantun Karya Sastra Melayu Riau

Pantun Karya Sastra Melayu Riau, Anak Melayu mana yang tidak tahu tentang pantun sebuah puisi Melayu sejati yang sampai sekarang masih digunakan dan membudaya dalam masyarakat. Saya pernah menjelaskannya pada postingan terdahulu Mengenal Tuah Pantun Melayu. Jadi pantun digunakan untuk mengambarkan pelbagai keadaan dan kegunaan seperti melahirkan perasaan sedih, gembira, rindu, berkasih dan memberi nasihat. Pantun juga digunakan dalam lirik-lirik lagu seperti lagu sri mersing dan dalam lirik lagu rasa sayang. Juga pada seni teater klasik Melayu Rantau Kuantan, yakni Randai Kuantan

Pantun adalah salah satu Karya Sastra Melayu Klasik, ciri-ciri pantun adalah sajak a-b-a-b atau a-a-a-a. Dua baris awal merupakan sampiran, umumnya tentang alam (flora dan fauna); dua baris ujung bagian isi, sebagai tujuan pantun. Contoh Pantun Melayu Rantau Kuantan bisa anda simak dibawah ini:
Ditutuah buluah botuang badotak-dotak
Ayam bakukuak di bawah dapuar
Sangek baruantuang urang pokak
Mariam babunyi enyo tatiduar
(ditebang buluh betung berdetak-detak
ayam berkokok di bawah dapur
sangat beruntung orang pekak
meriam berbunyi dia tertidur)

Pada dasarnya ada beberapa jenis pantun seperti Seloka - Karya Sastra Melayu Klasik: Seloka Merupakan bentuk puisi Karya Sastra Melayu Klasik, berisi pepetah ataupun perumpamaan mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Lumrahnya ditulis empat baris menggunakan bentuk pantun atau syair, kadang kala bisa juga ditemukan pada seloka yang ditulis lebih dari empat-baris. Contoh Pantun Seloka:
Anak pak dolah makan lepat
makan lepat sambil melompat
nak hantar kad raya dah tak sempat
pakai sms pun ok wat ?

Talibun - Karya Sastra Melayu Klasik: Sejenis puisi lama seperti pantun sebaba memiliki sampiran dan isi, tapi lebih dari 4-baris (bisa 6-20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, seterusnya. Contoh:
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanakpun cari
Induk semang cari dahulu

Pada setiap jenis pantun mempunyai isi dan maksud yang berbeda-beda tergantung dari jenis pantun. Maka pantun merupakan salah satu alat komunikasi yang cukup efektif untuk mengemukakan pendapat atau melancarkan kritik. Hal ini sudah mentradisi dalam masyarakat Melayu sejak zaman dahulu.

Pada zaman sekarang pantun sebagian besar masyarakat melayu diriau masih menggunakan pantun, tetapi bukan lagi sebagai bahasa pergaulan tetapi pantun dipakai oleh pemuka adat dan tokoh masyarakat dalam pidato, dalam acara meminang dan dalam acara melangsungkan pernikahan.

Di setiap acara pernikahan pantun sering digunakan sebagai pemuka sebelum mempelai laki-laki masuk kedalam rumah mempelai perempuan. Hal ini dilakukan kerena pernikahan adalah adat-istiadat yang sakral bagi masyarakat melayu.

Anak- anak muda sebagai penerus bangsa hendaknya mempelajari pantun, karena pantun merupakan sastra masyarakat melayu sebagai warisan oleh nenek moyang pada zaman dahulu. Source: www.sungaikuantan.com

READ MORE - Seni Sastra Melayu: Pantun Karya Sastra Melayu Riau

SENI SASTRA: SASTRAWAN YANG BERPENGARUH DI TAHUN 2020

Berdasarkan polling-polling dari beberapa tahun yang lalu, baik berupa SMS, polling di areapanas.blogspot. (sekarang sudah tidak ada) dan pada masa awal dunia-panas.blogspot. akan SASTRAWAN YANG BERPENGARUH DI TAHUN 2020, maka officers menyimpulkan hasil dari semua data dengan beberapa nama, anatara lain:
Nirwan Dewanto

melihat dari pergerakan arah persajakan nirwan yang terus berkembang--dan bahkan bisa dikatakan titik langkah awal dalam persajakannya--maka nirwan mempunyai masa depan persajakan yang jauh ke depan. tentu karena dibarengi intensitasnya yang keras.
Hasan Aspahani

pribadi hasan yang suka belajar dari karya-karya siapa saja, dengan keadaan bagaimanapun, tanpa membedakan satu dengan yang lainnya, telah membuat hasan melesat cepat dalam persajakan indonesia. meski dua buah awal bukunya masih banyak dipengaruhi gaya penyair ternama lainnya, tapi intensitas hasan dalam mengolah ekspresi, menganalisis cepat peristiwa, membuat persajakan hasan aspahani sangat menjanjikan pada masa mendatang.
Mardi Luhung

mardi luhung pribadi yang cepat menyerap proses belajar. satu puisi dengan jeda puisi lainnya selalu menciptakan hasil yang sangat signifikan. tentu, sajak-sajak mardi luhung termasuk yang ditunggu-tunggu dalam setiap publikasian oleh masyarakat sastra indonesia.
Gus tf

kepiawaiannya dalam menulis semua jenis sastra sekaligus, membuat sosok gus tf membingungkan di mata masyarakat sastra indonesia. teknik penulisan novel dan cerpennya yang sama kuat dengan puisinya. begitu juga pemikiran-pemikirannya yang ditulis dalam bentuk esai. namun officers dalam hal ini berpendapat, puisi dan pemikiran-pemikiran gus tf yang berbentuk lisan dan tulisan akan paling di nanti oleh masayarakat sastra indonesia pada masa mendatang.
Damhuri Muhammad

berbekal dengan pendidikan dalam filsafat, memotori bengkel sastra, sriti.com serta penerbitan juga penceramah sastra, menjadikan damhuri sebagai salah satu penggerak lalu lintas kesastraan pada masa mendatang. Seumber: dunia-panas

READ MORE - SENI SASTRA: SASTRAWAN YANG BERPENGARUH DI TAHUN 2020

Seni Sastra: Sastrawan Indonesia Teladan 2009

Sastrawan Indonesia Teladan 2009

Afrizal Malna


Mardi Luhung


Dorothea Rosa Herliani


Zen Hae


Gus tf


Hasan Aspahani


Joko Pinurbo


Lily Yulianti Farid

Marhalim Zaini

Sumber:dunia-panas

READ MORE - Seni Sastra: Sastrawan Indonesia Teladan 2009

Ombak Nyalo Simutu Olang | Cerita Rakyat Kuansing

Ombak Nyalo Simutu Olang adalah sebuah cerita yang telah melegenda di Kabupaten Kuantan Singingi, tepatnya di Desa Pangean. Cerita ini masih melekat erat pada masyarakat Pangean. Bahkan nama Ombak Nyalo Simutu Olang digunakan sebagai nama Jalur di ajang Pacu Jalur, sebuah kebudayaan Kuantan Singingi yang telah menjadi event nasional serta masuk agenda wisata Nasional.


TEMPAT KEJADIAN
Cerita ini tejadi di sebuah desa yang bernama Pangean. Tepatnya disebuah sungai yang bernama Batang Pangean. Pangean adalah suatu negeri yang terletak dalam daerah Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi.
Tidak berapa jauh dari Pasar Usang, disebelah baratnya mengalir sebuah sungai Batang Pangean. Sungai itu berasal dari anak-anak sungai yang terkenal dengan nama sungai Tesso. Didalam sungai ini hidup berjenis-jenis ikan yang dapat menambah penghasilan rakyat yang hidup disekitarnya.


Apabila sungai ini banjir, air bergerak naik, ikan-ikan mulai memasuki sungai melalui sungai kuantan. Melihat ikan yang begitu banyak, penduduk Pasar Usang dan sekitarnya berebut-rebut menahan lukah untuk menangkap ikan yang masuk menuju ke hulu sungai.Salah satu tempat berkumpulnya ikan-ikan itu adalah disuatu lubuk yang bernama Lubuk Sayak.


Dilubuk inilah masyarakat berebut-rebut memasang lukah, menjala, merosok, meambai dan memosok. Musim kemarau, masyarakat bersiap-siap membuat lukah, jala, ambai dan posok. Alat penangkap ikan yang dianggap paling praktis digunakan untuk menangkap ikan adalah lukah. Untuk daerah rantau kuantan jika air meluap.
Masyarakat disekitar lubuk sayak telah mempersiapkan lukah. Negeri Pangean merupakan suatu negeri yang mempunyai banyak ragam kebudayaan di daerah rantau kuantan. Negeri Pangean merupakan pusat pengembangan olah raga bela diri yang terkenal dengan nama ‘Silat Pangean’.


Menurut orang tua-tua di Pangean ini banyak sekali cerita-cerita rakyat, yang bukti peninggalan cerita itu masih dapat dilihat dan dibuktikan kebenarannya. Dalam buku ini, cerita yang akan diungkapkan, adalah cerita “Ombak Nyalo dan Simutu Olang”.
Jarak negeri Pangean ke kota Teluk Kuantan lebih kurang 35 Km, dengan Pasar Baserah 7 Km. Masyarakat Pangean hidup dari hasil pertanian dan perkebunan. Seni bela diri yang terkenal di daerah ini adalah silat pedang, silat tangan dan silat perisai yang tetap berkembang dan lestari hingga sekarang ini. Kemampuan guru-guru silat dalam mempertahankan dirinya di negeri ini telah banyak membuktikan kemampuannya baik didalam maupun diluar daerah Rantau Kuantan Singingi. Dalam lingkungan pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi, daerah Pangean terletak antara Kecamatan Benai dan Kecamatan Kuantan Hilir. Negeri tetangga yang terdekat dengan Pangean adalah disebelah barat Simandolak dan Siberakun dan disebelah timur berbatasan langsung dengan Baserah.


DUA SEKAWAN MEMASANG LUKAH
Salah satu alat penangkap ikan di negeri Pangean adalah lukah, lukah ini ada yang kecil, ada yang menengah dan ada yang besar. Yang kecil ini untuk menangkap ikan yang kecil, lukah yang sedang untuk menangkap ikan yang sedang pula, sedangkan lukah yang besar untuk menangkap ikan yang besar seperti ikan tapah dan patin.
Menangkap ikan adalah merupakan kegemaran masyarakat. Kebiasaan masyarakat, sebelum membangkit lukah yang besar, mereka terlebih dahulu menjenguk lukah yang kecil yang dipasang dalam sungai-sungai kecil. Menurut lazimnya mereka kerjakan kalau air banjir lukah-lukah penuh berisi ikan lampan atau sejenisnya.
Dua orang datuk yang sangat akrab, yaitu Datuk Topo, penghulu suku Melayu dengan Datuk Siak Pokih penghulu suku Paliang, keakraban kedua datuk ini sangat tinggi. Mereka seperti merpati dua sejoli, laksana pohon aur dengan tebing, seperti kuku dengan jari. Keakraban itu sampai memasang lukah di lubuk sayak. Kalau mendapat ikan selalu dibagi sama banyak. Kalau ikan dijual, ya sama dijual. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, pada hari pertama kejadian, dua sekawan menjenguk lukahnya tak berisi sama sekali. Umpan dalam lukah habis dimakan ikan, namun ikannya entah kemana. Dalam hati kedua datuk timbul tanda tanya, kecurigaan mulai datang, keinginan untuk membuktikan kasus ini mulai tumbuh, Untuk membuktikan kecurigaan ini, masing-masing mulai menyelidiki.


Siapa pelaku pencuri ikan dalam lukah mereka berdua. Selesai sholat subuh kedua datuk yang sehati dan sejiwa ini berangkat untuk mencari tau siapa yang sebenarnya telah mengambil ikan yang ada didalam lukah mereka. Di pagi buta itu Datuk Topo dan Datuk Siak Pokih bergerak mendekati lukah pertamanya dari kejauhan mereka melihat seorang gadis cantik berjalan di dekat lukah yang sedang terpasang. Gadis itu langsung mengangkat dan mengambil ikan yang ada pada lukah tersebut, pada mulanya kedua datuk ini tidak percaya gadis itu pencuri ikan dalam lukahnya, karena wajahnya yang cantik dan bentuknya yang menarik tidak mungkin seorang pencuri. Kemudian kedua datuk sekawan itu terus mengintip dan mengikuti gerak-gerik gadis itu sampai kepada lukah yang kedua.


Sampai pada giliran pada lukah yang ketiga hari pun sudah semakin terang, wajah sang pencuri semakin jelas, dengan sangat berhati-hati sampai kepada lukah yang keempat, lirikan dan pandangan mata gadis yang menawan itu semakin liar, gerak geriknya semakin mencurigakan, setelah pandang melayang jauh tak ada yang dikuatirkan gadis itupun turun membangkit lukah dan mengambil ikan yang ada di dalam lukah tersebut. Dalam keadaan mengambil ikan itulah, tiba-tiba datuk dua sekawan keluar dari semak-semak dan langsung dan mempergoki dan menangkap sipencuri, tanpa mengadakan perlawanan sipencuri digiring mereka masuk desa.


GADIS KAYANGAN TERTANGKAP MENCURI IKAN
Pagi itu, matahari mulai memancarkan cahayanya menerangi bumi. Sipencuri yang telah berpraktek selama 3 hari, akhirnya tertangkap tangan. Satu-satunya jalan bagi pencuri harus mengakui perbuatannya yang terlarang, dua sekawan tak mau main hakim sendiri. Sipencuri langsung dihadapkan kepada ninik mamak untuk diadili dan diberi hukuman sesuai dengan perbuatannya.
Sebelum gadis cantik itu diberi hukuman oleh ninik mamak, terlebih dahulu sipencuri ditanya oleh dua sekawan, siapa namanya, nama ayah, negeri asal, nama sukunya dan pekerjaannya.

Gadis itu menjawab: “Nama saya adalah Dayang Pinang, anak dari orang bunian, tidak bersuku dan tidak berkampung. Saya adalah seorang gadis yang diusir oleh ibu dan ayah, karena melanggar larangan dan pantangan dalam masyarakat jin di alam kayangan. Saya tidak dibenarkan lagi kembali ke alam kayangan. Kesetiaanku telah dicabut dan saya tidak mungkin untuk kembali lagi ke asalku, karena hidupku yang terlunta-lunta, kepada siapa saya akan mengadu, saya mencuri karena terpaksa. Disamping pekerjaan ini saya lakukan adalah dengan tujuan dan maksud yang terkandung dalam hati, agar saya ditangkap oleh para penghulu dan datuk di negeri ini. Saya telah tahu, bahwa datuk-datuk penghulu dua sekawan tidak akan menyiksa saya, seandainya saya mereka tangkap sekaligus akan mengetahui nasib dan penderitaan bathin yang sedang saya tanggungkan. Seandainya datuk penghulu memang marah pada kelakuan dan perbuatan saya yang tidak baik dan sangat dilarang di desa ini saya mohon ma’af dan berjanji tidak akan melakukan lagi.”

Mendengar pengakuan gadis yang cantik ini, datuk dua sekawan timbul rasa belas kasihan. Mereka berkata: “ Kami tidak akan menghukum, kami akan menjadikan anak kami. Walaupun kamu berasal dari bangsa jin.” Gadis cantik itu berkata : “karena saya telah mengucapkan janji, maka saya akan mengikuti perintah datuk. Kalau saya dibuang akan jauh, kalau digantung saya akan tinggi.”
Menyimak ucapan dan penyampaian gadis ini, datuk penghulu yang berdua, lembaga adat negeri memutuskan : “Kami dari lembaga adat dari suku-suku yang ada dalam negeri, memutus dengan mempertimbangkan pengakuan dari gadis kayangan serta pernyataan yang disampaikan oleh kedua datuk pimpinan suku dalam negeri, bahwa gadis kayangan ini dikembalikan kepada datuk yang berdua.” Demikian pelaksanaan rapat yang berlangsung selama tiga batang rokok ini. Untuk sementara, sesuai dengan perundingan dua sekawan, gadis cantik ini dibawa dahulu kerumah Datuk Topo, penghulu suku Melayu. Tentang ketentuan selanjutnya akan dimusyawarahkan setelah situasi agak tenang.

Kedua datuk ini mengadakan pertemuan, mendudukkan permasalahan gadis yang mereka pungut sewaktu mencari ikan, maka terjadi pertengkaran antara Datuk Topo dengan Datuk Siak Pokih. Datuk Topo berkata : “Kalau gadis ini tidak didudukkan permasalahannya, nasibnya akan sama dengan nasib yang sebelumnya. Saya menginginkan agar dia masuk kedalam suku melayu, karena suku melayu Negeri Pangean ini termasuk suku yang terbesar. Kalau dia masuk suku melayu berarti pemuda dari suku Paliang dan suku Cermin dapat melamarnya untuk dijadikan istri. Seandainya dia tidak dijadikan anak angkat, maka akan berezki adalah orang luar, kita yang merugi.”

Pendapat dan saran yang diutarakan Datuk Topo ini tidak mendapat sambutan yang baik oleh Datuk Siak Pokih. Mereka masing-masing ingin memiliki gadis cantik itu. Pertengkaran kedua sekawan ini tak kunjung berpangkal dan berujung dan mengarah kepada perkelahian mulut dan akan disudahi oleh bentrokan fisik. Keakraban yang terjalin baik selama ini akan pecah, akibat masing-masing mempertahankan pendapat dan keinginan.

Datuk Topo berkata : “Saya tidak menginginkan persahabatan kita yang baik dan kokoh, seperti kuku dengan jari, sekarang akan pecah dan pecahannya akan sirna karena permasahan ini. Terakhir saya nasehatkan, baik kita adakan pertandingan antara dubalang Suku Melayu dengan Dubalang Suku Paliang. Dubalang yang menang dalam pertandingan perkelahian, maka dialah yang berhak mengawini atau menikahi gadis kayangan itu. Yang kalah janganlah berkecil hati, karena masing-masing telah berusaha untuk mendapatkan gadis tersebut.” Pendapat Datuk Topo ini diterima oleh ketua penghulu. Sebagai tanda setuju perlu disadari: “Semenjak kita muda selalu kompak, serumpun bagaikan serai, sebungkus bagaikan nasi, sedoncing bak besi, seciok bak ayam, setelah tua, senja mulai melintas, cahaya kelabu telah terbentang luas, suatu pertanda umur kita tidak beberapa lagi, ajal telah menunggu, kematian datang menjemput, dunia akan ditinggalkan, kehidupan di akhirat perlu jadi perhatian.” Dasar permupakatan itu ditetapkan hari pertandingan perkelahian.

Datuk Penghulu Sutan menetapkan : “Pertandingan itu akan kita adakan tiga bulan lagi.” Datuk Topo menyetujui apa yang dikatakan oleh Datuk Penghulu Sutan. Hasil perundingan yang telah disepakati oleh Datuk Topo kemudian disampaikan kepada Jurai Monti dan Dubalang. Karena Dubalang suku Paliang pada waktu itu tidak ada, maka menurut para Monti baiknya didatangkan dubalang dari Kuntu Darussalam sebagai dubalang kita, dan dialah yang akan mewakili dubalang suku Paliang dalam pertandingan esok.
Menurut Datuk Siak Pokih : “Dubalang dari Kuntu Darussalam itu memang baik, punya ilmu kebathinan yang banyak.” Seorang Monti bertanya : “Kami dari Jurai Monti ingin tahu siapa nama dari dubalang kita itu?”, jawab Datuk Siak Pokih : “Namanya adalah Simutu Olang” Merupakan dubalang yang terkenal dari daerah Kampar Kiri. “Kalau begitu kami dari Monti setuju yang akan bertanding itu adalah Dubalang Simutu Olang, yang diharapkan akan dapat membawa nama baik Suku Paliang.” Monti yang lain berkata : “Mumpung kita dalam mupakat, saya mengusulkan, sebelum akan bertanding, Simutu Olang sudah berada di kampung ini, gunanya untuk mengatur siasat dan strategi yang sangat perlu kita bicarakan.”

Kata Datuk Siak Pokih : “Dalam bertanding, kita jangan memperlihatkan keangkuhan dan kesombongan, kalau kita kalah, kita akan mengakui kekalahan kita, kita harus mengakui kehebatan dan kepintaran lawan. Juga sebaliknya kalau kita menang mereka harus mengakui kemenangan kita.” Setelah ada kesepakatan perundingan, masing-masing setuju untuk mendatangkan Simutu Olang untuk bertanding, dengan kekompakan para Monti demi melaksanakan keputusan datuk dua sekawan masing-masing setuju, semoga segala rencana akan berjalan dengan sukses dan lancar. Dengan adanya pertandingan ini, dikedai-kedai kopi muncul berbagai pendapat. Pendapat-pendapat itu mulai simpang siur. Disebuah kedai kopi seorang datuk penghulu berkata : “Dahulunya Datuk Topo dan Siak Pokih selalu kompak, mereka tak berselisih paham atau berbeda pendapat. Mereka sangat serasi, bahkan silang sengketapun jauh dari mereka. Mereka selalu ikut mengikuti, seiya sekata. Bak pepatah berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing, manis sama ditelan, pahit sama dimuntahkan, ke bukit sama mendaki kelurah sama menurun. Tuhan maha kaya yang dapat menciptakan isi alam ini terdiri dari berpasangan dan ada yang berlawanan.

Misalnya ada yang pintar dan ada yang bodoh, persatuan lawannya perpecahan, baik lawannya buruk. Benar sekali apa yang diucapkan orang-orang cerdik pandai dahulunya itu. Bak kata pemuka adat : “Sifat yang sama jangan dipertemukan. Yang harus dipertemukan adalah sifat dan pendapat yang berbeda.” Seisi kedai kopi duduk terdiam mendengarkan perkataan datuk itu. Datuk itu meneruskan lagi perkataannya : “Perbedaan itu dalam negara kita ini, membawa kepada kebenaran yang hakiki. Kadangkala sifat yang sama akan membawa kepada kehancuran, sama-sama sabar mendatangkan malapetaka yang membawa kepada kefatalan. Tuhan telah menciptakan mahluk di dunia ini tidak ada yang sama. Kalau sama tapi berbeda. Kata orang sekarang, serupa tapi tak sama.
Sama bentuk fisik, berbeda pada sikap. Sama wataknya tapi bentuk kulit dan mukanya berbeda. Demikian tuhan menjadikan alam ini sangat bervariasi. Ada gunung ada lembah dan ngarai, ada padang pasir ada hutan belantara, ada samudera dan ada daratan yang maha luas. Ada sungai-sungai yang panjang dan berhenti-hentinya air mengalir ke muara. Dilangit ada bulan, bintang, awan dan hujan, cuaca mendung yang tebal dan gelap, sering-sering diiringi cahaya yang terang dan cerah. Hewan berkeliaran diatas dunia ini juga demikian. Ada yang jinak ada yang liar, ada yang buas dan ada yang memamabiak, ada yang besar dan ada yang paling halus bahkan sangat kecil. Diudara berterbangan burung-burung yang bulunya beraneka ragam, ada yang suaranya merdu menarik perhatian orang.

Pokoknya tidak ada yang sama, tempat sama waktu berbeda. Begitu pula Datuk Topo dan Siak Pokih, dulunya kompak, seiya sekata yang kini telah pecah. Dialam ini tidak ada yang kekal dan abadi, sifatnya selalu berobah. Memang begitu sifat dan kodratnya. Kalau kita mendapat dukungan dari penguasa, dukungan itu hanya sementara. Didesa ini yang berkuasa dalam adat adalah datuk penghulu dan ninik mamak. Penghulu punya anak, cucu dan kemenakan. Punya tanah ulayat yang dipersiapkan untuk kemenakan, mamak dalam adat berfungsi biangkan mencabik, gentingkan diputus, membuang jauh, menggantungkan tinggi, menghitam memutihkan. Yang bersalah dihukum yang berhutang membayar, tangan mencencang bahu memikul. Datuk dua sekawan sama-sama berminat untuk memiliki gadis cantik itu, akhirnya mereka bertengkar yang disudahi dengan adu dubalangnya. Inilah salah satu cara yang diambil jalan keluar untuk menghilangkan rasa ketidaksenangan diantara mereka berdua, adil dalam menimbang, tepat dalam mengukur, akan menghasilkan keputusan yang benar, yang akan dipegang erat, dituruti dan dipatuhi oleh anak cucu dan kemenakan dalam nagori.
(Bersambung………………...)

SUMBER:http://www.sungaikuantan.com/2009/11/ombak-nyalo-simutu-olang.html

READ MORE - Ombak Nyalo Simutu Olang | Cerita Rakyat Kuansing

SENI SASTRA: LOMBA BACA PUISI FESTIVAL RENDRA 2009 TINGKAT SLTA/SEDERAJAT

FESTIVAL RENDRA 2009
DEWAN KESENIAN JAKARTA
menyelenggarakan
LOMBA BACA PUISI FESTIVAL RENDRA 2009
TINGKAT SLTA/SEDERAJAT
Waktu : 26—28 November 2009
Pukul 10.00 WIB—Selesai


Tempat : Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya 73 Jakarta 10330
Biaya pendaftaran Rp.20.000/orang (diserahkan saat pengambilan Formulir Pendaftaran)


Peserta dibagi menjadi 2 (dua) kategori:
1. Laki-laki
2. Perempuan


Memperebutkan:
1. Trofi Dewan Kesenian Jakarta
2. Sertifikat
3. Uang Tunai


Formulir pendaftaran bisa diambil di:


1. Kantor Dewan Kesenian Jakarta
Jl Cikini Raya 73 Jakarta 10330
Telpon: (021) 31937639/08176589639(Ayu).


2. Gelanggang Remaja Bulungan Jakarta Selatan
Jl.Bulungan Blok C no 1 Kebayoran Baru Jakarta Selatan
Telpon: (021)99469966/08174941654 (Herry)
Lomba Baca Puisi Ini akan dinilai oleh Dewan Juri:


1. Ags.Arya dipayana (sutradara teater)
2. Ayu Utami (novelis)
3. Iswadi Pratama (penyair/sutradara teater)
4. Irmansyah (penyair)
• Panitia hanya akan menerima 100 (seratus) pendaftar pertama.
• Pendaftaran akan ditutup pada 10 November 2009.

Sumber

READ MORE - SENI SASTRA: LOMBA BACA PUISI FESTIVAL RENDRA 2009 TINGKAT SLTA/SEDERAJAT

Arsip Blog

Seni-Art