Tanpa Ziarah Budaya, Seni Melayu Takkan Mendunia

Masyarakat kita hari ini kerap terjebak dengan memelihara seni dan budaya hanya setakat bentuk. Padahal mestinya lebih kepada nilai-nilai dan semangat yang ada di dalamnya. Sehingga ketika suatu karya seni tidak menampilkan lagi sesuatu yang khas seperti seni tradisional, ia sudah dianggap tidak mencerminkan suatu daerah.

‘’Misalnya, ketika dalam seni tari kalau tidak ada lagi joget, ia dianggap bukan Riau. Atau ketika dalam seni teater kalau tidak ada lagi randai dan bangsawan ia tidak Riau. Mestinya kita tidak menilai seni sebatas tradisional dan modern saja. Bagi generasi muda sekarang, banyak yang hanya melihat tradisi secara mentah, tapi tidak pernah melakukan ziarah budaya,’’ ujar Seniman Pemangku Negeri (SPN) Iwan Irawan Permadi dalam diskusi seni budaya Riyadhah Purnama Dewan Kesenian Riau (DKR) pekan kedua yang berlangsung Kamis (3/9). Dipandu oleh Murparsaulian, tema diskusi pekan ini bertajuk ‘’Gelora Kesenian Riau di Tengah Gemuruh Kesenian Dunia’’.
Menurut koreografer tari ini, seni sastra memang bisa berdiri sendiri dalam artian dapat dikerjakan secara individual. Tapi itu tidak berlaku untuk seni pertunjukan seperti tari, musik dan teater. Seni pertunjukan perlu jaringan dengan orang lain. ‘’Tanpa jaringan, seni pertunjukan itu nol. Jaringan ini bisa dalam bentuk forum-forum festival atau menciptakan jaringan-jaringan sendiri,’’ ujar pria yang belajar tari dari padepokan seni Bagong Kussudiardjo Jogjakarta ini.
Kendalanya, lanjut Seniman Pilihan Sagang 2006 ini selain hal klise seperti apakah jaringan itu mendapat dukungan dari sejumlah pihak salah satunya pemerintah, juga tidak adanya penciptaan tradisi baru yang tidak hanya sekadar mengulang-ulang. Misalnya gerakan zapin yang berputar-putar atau memasukkan syair-syair tertentu dan lain sebagainya.
Sementara itu, menurut Ketua DKR Eddy Akhmad RM, acara diskusi ini sebenarnya berangkat dari kegelisahan terhadap fenomena kebudayaan hari ini. Kebudayaan lebih dianggap sesuatu yang given, sudah jadi dan dalam waktu yang cukup lama manka kebudayaan direduksi jadi sebatas berkesenian, bukan sesuatu yang bergerak dan senantiasa berubah.
Dalam pandangan Eddy, Melayu hari ini sudah berbeda dengan Melayu yang dahulu. Namun faktanya hari ini, kita masih kerap memaksakan Melayu hari ini untuk tetap menjadi Melayu yang dahulu. Anak-anak masa kini masih disuguhkan tari persembahan sementara mereka lebih suka mendengar musik-musik yang dinamis.
‘’Anak-anak kita kini lebih banyak menonton Doraemon, Power Rangers, Sinchan dan sejenisnya yang tidak punya misi apa-apa serta jauh dari kebudayaan ibunya. Anak-anak kini bermain di ‘halaman’ negeri lain seperti Jepang. Itu karena apa? Karena kita tidak menyediakan alternatif untuk mereka. Visi Riau 2020 yang terbengkalai hari ini menjadi buktinya. Anggaran untuk kebudayaan hanya nol koma sekian persen,’’ ujar Eddy seraya menambahkan bahwa masalah tari pendet, batik dll yang kini diklaim Malaysia juga adalah salah satu bukti kita tidak serius mengurus kebudayaan.
Dalam diskusi yang berlangsung cukup seru itu, Iwan mengakui, untuk seni sastra, Riau memang sudah mendunia. Tapi belum untuk seni pertunjukan (tari, musik dan teater). Sebenarnya, lanjut Iwan, di Riau tidak ada tradisi tari persembahan. Tradisi penyambutan di Riau sebenarnya adalah silat, kompang serta sembah cerano. Tari persembahan yang ada saat ini sebenarnya dibuat ketika menyambut kedatangan mantan Presiden Soeharto ke Riau. ‘’Kita perlu melakukan ziarah-ziarah budaya ke lubuk-lubuk kesenian. Tanpa ini kita takkan mendunia,’’ tutur Iwan.***

Sumber:http://www.riaupos.com/beritaahad.php?act=full&id=143&kat=3