SENI RUPA: UMAR HALIM - SANG JURU BICARA PALEMBANG

Lukisan Umar Halim

Memanah Matahari
100 Cm X 90 Cm
Cat minyak di atas kanvas
Tahun 2001

Penulis: Erwan Suryanegara
BANYAK orang mungkin termasuk kita, ketika berhadapan dengan suatu karya seni lukis, baik dalam kegiatan suatu pameran atau di art shop yang memang banyak dipajang lukisan, maka serta merta di benak kita muncul pertanyaan klasik…apa sih maksudnya atau mungkin yang lebih jauh lagi…kita ingin tahu apa makna dari lukisan itu? Guna dapat memahami suatu karya seni, dikatakan butuh apa yang dinamakan pengalaman estetis. Nah, dalam urusan yang satu ini, bukanlah pekerjaan mudah seperti membalikkan telapak tangan, karena hal tadi memerlukan proses dan atau membutuhkan waktu.

Seniman dan karya seninya (konsep modern), sejak lama bahkan hingga kini masih dipandang sebagai sesuatu yang unik dan atau cenderung sulit untuk dipahami, namun dalam kenyataan sebenarnya tidaklah semutlak itu. Mencermati karya seni sebagai hasil dari sebuah proses penciptaan kreatif yang dilakukan oleh para seniman, termasuk menyimak latar belakang kehidupan dan pandangan-pandangan keseniannya, merupakan satu jalan pendekatan yang dapat kita tempuh dalam upaya mencoba untuk lebih memahaminya secara utuh.
Sosok Umar Halim
Kiagus Umar Halim (alm), adalah seorang perupa atau pelukis kelahiran Gang Limbungan 24 Ilir Palembang, pada 1 Agustus 1956. Kgs. Umar merupakan putra ke-4 dari 9 bersaudara dari pasangan Kgs. Abdul Halim Bin Akib (alm) dengan Nyayu Molek. Tidak salah bila dikatakan sesungguhnya “darah seni” Umar Halim memang kental yang berasal atau mengalir dari sebuah keluarga seniman, karena mulai dari sang Ayah hingga sebagian besar saudara-saudaranya semua bergelut dengan berbagai aktivitas kesenian, seperti: seni rupa, teater, juga musik. Bahkan, Lisa Halim yang boleh dikatakan sebagai pelukis wanita pertama Sumatra Selatan adalah “Ayuk” (Kakak Perempuan) dari Umar Halim, yang sekarang bermukim di Pangkal Pinang (Babel).
Sejak masa kanak-kanak Umar Halim kecil sudah memperlihatkan minat dan bakat seninya besar, seperti yang dituturkan oleh “Ebok” (Ibunda) Umar, pada saat usianya menginjak remaja Umar Halim kian memperlihatkan kegilaan-nya akan seni, ia mulai aktif bergabung dengan kelompok teater dan mulai melukis. Pada usianya 13 tahun, Umar Halim terpaksa putus sekolah karena di Palembang belum ada sekolah seni, namun minat seninya yang kuat itu untungnya dapat tersalurkan lewat aktivitasnya di Karang Taruna. Saat putus sekolah, sesungguhnya Umar sempat memperlihatkan kekecewaannya yang mendalam dengan mengurung diri di “ajang akap” (hanya sesekali turun untuk makan atau minum). Selama dua tahun berkurung di loteng itu ternyata Umar Halim mengisi waktunya dengan aktivitas membaca buku, karena ia termasuk seorang yang sangat gemar membaca.
Sosok Umar Halim tergolong sebagai pribadi yang kuat atau keras, namun di balik kekerasan itu, sesungguhnya Umar merupakan pribadi yang lembut sangat kasih atau sayang, terutama kepada Ebok tercintanya. Setiap kegundahan atau kegelisahannya selalu ia tumpahkan kepada Ebok sebagai pelabuhan tempatnya mengadu. Melalui keluarga yang dibinanya bersama Kurnia, Umar Halim diberkahi empat orang anak sebagai buah hatinya: Marisa (Ica), Dini, Rio, dan Rendi. Namun gambaran figur atau pribadi Ebok yang bagi Umar begitu melekat sekaligus idolakan, bahkan sesuai harapannya gambaran itu akan dapat terus hadir melalui sosok istri dan anak sulung perempuanya, ternyata kembali berbuah dan menuai kekecewaan.
Peristiwa kelam 18 Agustus 1981, saat si jago merah meluluhlantakkan kawasan 24 Ilir, semakin mengubur dalam cita-cita, harapan, dan impian-impian Umar Halim. Pergaulan kehidupan di pusat kota Palembang, juga keinginan kuat Umar dalam berkesenian terutama seni rupa dan khususnya seni lukis, telah membukakan kesempatan padanya berkenalan atau dekat dan belajar secara otodidak kepada beberapa pelukis atau perupa Palembang ketika itu, seperti: Sutopo, Ex Ling, dan Abdulah Saleh.
Lukisan Pesanan dan Karya Pribadi
Membicarakan karya-karya lukisan Kgs. Umar Halim, dapat dipilah menjadi dua jenis, ada karya yang dibuatnya karena pesanan (owner), dan ada karya yang murni sebagai hasil kreatifitas, imajinasi, serta ekspresi pribadinya. Termasuk juga ada beberapa buah karyanya yang eksploratif-eksperimental dengan mixed media. Lukisan yang dibuatnya berdasarkan pesanan pemilik, umumnya dengan tema-tema landscape dan lukisan potret. Tetapi, banyak juga pada karya-karya pesanan ini, dimana Umar tetap juga menggarapnya dengan memasukkan unsur atau style pribadinya, umumnya diterapkan terutama pada bagian latar belakang lukisan-lukisannya.
Pada karya-karya pribadi, Umar Halim total lebur dan larut ke dalam setiap karya lukisnya. Sesungguhnya, hampir setiap orang dapat saja belajar bagaimana membaca atau menafsirkan dan memaknai suatu lukisan yang dilihatnya, asalkan memang seseorang itu punya keinginan yang besar dan mau melatihnya. Mereka-mereka yang memiliki kemampuan membaca atau menafsirkan suatu karya seni, umumnya memang telah memiliki pengalaman estetis yang baik. Untuk meningkatkan pengalaman estetis dapat saja ditempuh antara lain, dengan jalan mempelajari seni, banyak menyaksikan karya-karya seni, sering berdiskusi dengan seniman-seniman, dan bila mungkin juga melakukan proses kreatif atau menciptakan karya seni.
Suatu karya seni dalam hal ini lukisan secara umum memiliki dua informasi: pertama, informasi yang bersifat internal atau dari dalam karya itu sendiri (fisik), dan informasi kedua, dari luar karya atau yang bersifat eksternal yaitu dari seniman kreatornya dan fakta-fakta zaman (ruang atau waktu) saat karya itu dibuat.
Informasi internal atau dimensi fisik karya seni lukis, adalah subject matter, medium, dan form. Subject matter atau materi subjek adalah objek-objek, figur-figur, peristiwa-peristiwa, dan tempat-tempat yang digambarkan dalam suatu lukisan. Sebagai contoh misalnya pada salah satu lukisan Umar Halim di bawah ini, yang berjudul Memanah Matahari, berukuran 100 Cm X 90 Cm, media cat minyak di atas kanvas, yang dibuat tahun 2001. Materi subjeknya adalah berupa figur kuda berleher badan dan kepala manusia yang bermahkota, bersabuk pinggang, berkalung, serta bergelang, baru usai melepaskan anak panah dengan busur masih terbentang dalam genggaman tangan kiri si pemanah, dan sejumlah objek-objek lainnya, seperti anak panah, garis-garis kilatan cahaya, gumpalan-gumpalan awan, dan bongkah-bongkah batu.
Objek utama, seekor kuda dengan sikap heroik dimana kedua kaki depannya diangkat, berleher badan yang bertelanjang dada dan kepala manusia yang bermahkota, bersabuk pinggang, berkalung, serta bergelang, baru usai melepaskan anak panah dengan sikap tangan masih pada posisinya, dan busur terbentang dalam genggaman tangan kiri si pemanah. Mencermati bahasa rupa dari objek utama dan objek-objek lainnya pada lukisan ini, Umar sesungguhnya ingin mengingatkan kita akan nilai-nilai melalui icon seperti kuda, satria, dan panah. Sementara pada objek-objek lainnya divisualkan: (a). anak panah dengan kilatan cahaya. (b). Gumpalan-gumpalan awan. (c). bongkah-bongkah batu.
Medium, pada lukisan Memanah Matahari juga umumnya lukisan Umar Halim, ia memilih cat minyak sebagai mediumnya, yang diterapkan di atas kain kanvas berukuran 100 Cm X 90 Cm, sisi panjang pada posisi vertikal. Form atau bentuk, setiap karya seni rupa memiliki bentuk, bentuk ini dapat bersifat realistik, abstrak, representasional, nonrepresentasional, dan ada yang dikerjakan secara cermat, detail, namun ada pula yang secara ekspresif atau spontan. Melalui bentuk inilah seorang seniman membahasakan materi subjek karyanya dengan pilihan medium yang tertentu. Berdasarkan bentuk itu kita dapat memperhatikan bagaimana komposisi, susunan, konstruksi visual dari suatu karya seni. Karya seni rupa memiliki elemen-elemen atau unsur-unsur formal, seperti titik, garis, ruang, shape, tekstur, volume, dan massa. Melalui karya ini pula dapat diketahui bagaimana prinsip mengorganisir elemen-elemen visual atau ‘prinsip desain’ dari seorang seniman. Prinsip-prinsip itu meliputi proporsi, skala, unity (kepaduan atau kesatuan), repetisi, ritme, balance, kontras, dominasi, dan beberapa lagi yang lainnya.
Kembali pada lukisan Memanah Matahari di atas, Umar Halim berupaya menggarap visual objek-objeknya (bentuk) secara realistik dengan permainan warna dan gagasan yang cenderung surealistik. Figur kuda berbadan dan kepala manusia merepresentasikan sikap satria. Posisi dan sikap terutama objek utama, permainan warna komplementer terutama pada objek yang berupa gumpalan-gumpalan awan dan dijadikan latar belakang lukisan, adalah upaya Umar dalam membangun atau mengorganisir elemen visualnya. Dominasi awan yang berwarna-warni, menyebar memenuhi bidang kanvas, seakan merangkai dan sekaligus menyatukan keseluruhan materi subjek yang divisualkan. Terang yang kuat pada awan yang memutih dan diagonal, merupakan penyeimbang (balance) dari objek utama yang juga diagonal dari arah sebaliknya.
Memperhatikan tahun pembuatan lukisan Memanah Matahari yang diciptakan pada tahun 2001, dapat diprediksi lukisan ini merupakan representasi atas realitas-relitas yang cenderung paradoks dengan idealitas. Seperti diketahui secara faktual, bahwa pada tahun 1998 – 2001 adalah tiga tahun pertama atau masa awal-awal era reformasi, kondisi dimana runtuhnya tirani ORBA yang identik dengan pemasungan, rekayasa, tidak focus, dominasi, bermuka dua, dan sebagainya, akibat permainan politik kekuasaan di Indonesia, yang kemudian digantikan oleh kelompok reformis. Lukisan Umar Halim, Memanah Matahari secara tekstual kekaryaan mengandung narasi yang cukup syarat, dan satu yang menonjol adalah nilai-nilai kesatria seperti tampak pada objek utama. Bahasa rupa sartriatik sepertinya mengusung makna ada keinginan untuk mempertanyakan realitas yang ada, dengan idealitas yang sesungguhnya.
Karya seni lukis secara fisik pada dasarnya merupakan teks visual, di samping teks verbal seperti judul yang digunakan, semuanya sama-sama merepresentasikan satu gagasan yang ingin dikomunikasikan oleh Kgs. Umar Halim lewat karya kreatifnya. Sesungguhnya teks-teks tersebut merupakan ekspresi dari sejumlah konsep-konsep, seperti: cita-cita, harapan, impian, pesan, protes, dan lain sebagainya, dari si seniman selaku kreator artistiknya. Selain pengelompokan informasi internal suatu karya seni ke dalam istilah-istilah: subject matter, medium, dan form, serta informasi eksternal seperti yang telah diuraikan di atas, pembacaan karya seni dapat juga dilakukan melalui beberapa teori yang digunakan sebagai “mata pisau” dalam membedah atau menganalisa nilai-nilai apa yang dikandung oleh suatu karya seni.
Teori-teori psikoanalisa seperti yang dikembangkan oleh Sigmund Freud (1896 pertama kali memproklamirkan istilah psikoanalisis), dan menyusul kemudian Carl Gustav Jung. Subject matter lukisan Memanah Matahari dengan visual bentuknya yang menggunakan beberapa idiom, relevan dengan ‘simbol-simbol analisa mimpi’ Freudian, sebagai ekspresi dari pemenuhan hasrat tersembunyi (wish of fulfillment). Demikian pula dari kesemua bentuk yang divisualkan oleh Umar itu, pada prinsipnya terdiri dari dua bentuk yang bersifat umum, yakni: pertama, bentuk ruang atau sifat keruangan, seperti bentuk-bentuk bidang bulat atau lingkaran, pada gelang, kalung, untaian sabuk pinggang, mahkota, bola matahari, bongkah-bongkah batu yang membulat, juga gumpalan-gumpalan awan adalah mewakili rahim atau perempuan. Kedua, bentuk batang atau sifat memanjang, seperti bentuk-bentuk garis cahaya, dan bilah busur adalah mewakili laki-laki, selain dari ikon yang memang visualnya sudah mencitrakan genetik laki-laki, satria dan kuda. Bentuk-bentuk tersebut juga relevan dengan “simbol-simbol analisa seksualitas masa kanak-kanak dengan asosiasi bebas” Freudian.
Lukisan Memanah Matahari bila dihubungkan dengan teori kreativitasnya Sigmund Freud, maka lukisan tersebut termasuk karya kreatif yang artistik, karena merupakan hasil perwujudan dari adanya kekuatan dorongan (motivasi) naluri bawah sadar, penghalangan dan sekaligus juga adanya kemampuan penghalusan atau mengganti saluran (rechannel), yang mendorong pada kerja artistik si seniman. Sementara menurut C. Gustav Jung, seniman-seniman yang berhasil mengintuisi ketidaksadaran atau unconsciousness kolektif adalah seniman jenius. Sementara di dalam teori “ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif” dari psikoanalisanya Carl Gustav Jung, lukisan Memanah Matahari tergolong sebagai “the anima archetype."Source: www.dapunta.com